::desaturated::

Lorem ipsum consul dissentiet at per, ei vis alia viris dissentiunt, ius erat harum dolor ut. Et ubique vocent usu, id eam illum essent erroribus, nam ex rebum incorrupte. Possit electram sententiae eum at! Harum impetus senserit in quo, has illud dicta complectitur ut! Sit feugiat electram reprehendunt no, blandit singulis patrioque ut ius.


.blow up the candle and ur age gone by 1.





im shutting down facebook
im shutting down my blog
im shutting down me
im hibernating...

see you






contined....


"Aku senang sekali aku bisa bicara dengan hujan! kenapa jga kmu tidak pernah mengajakku sebelumnya berbicara dengan hujan... kamu tahu aku memujanya bahkan aku sangat sekali memuja hujan dia begitu tenang sejuk aplagi musik yang dia bunyikan melalui ketukan-ketukannya yang halus..."
"Pelikan, diam!" Capung mengingatkan kebiasaan buruk sahabatnya itu
"Tadi itu bukan pekerjaan yang main-main. bisa jadi berbahaya, kau kan tahu apa yang terjadi jika awan terus menangis dan marah? hujan pun akan menjadi buas... kau tidak ingat cerita moyang kita dulu saat mereka naik Bahtera Nuh? itulah ketika hujan sendirian menangis dan mereka mencoba berbicara padanya namun malah bikin tersinggung akhirnya dia menangis lebih keras 30 malam tanpa henti. itulah mengapa kita kadang-kadang mengganggap semua permasalahan yang dihadapi binatang lain sepele, kita tidak pernah tahu, maka dari itu hati-hati dengan hal-hal yang ,menyangkut perasaan orang"

"Iya aku juga pernah mengalaminya waktu sebuah Dandelion yang curhat tentang betapa dia benci pada angin yang selalu membuat dirinya melambung lambung tapi tidak pernah bisa menyentuhnya aku lalu membuat dia sedikit tersinggung hingga dia merontokan serbuk-serbuk halusnya padahal aku tidak bermaksud untuk menghina dia aku hanya bilang kalau..."

"Pelikan...cukup, aku mengertti maksudmu, ditambah lagi kam sudah menceritakan ini semu lusa bukan? itu yang aku maksud, kita tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan, jadi yang paling baik adalah mendengarkan dan biar dia yang menyelesaikan sendiri perasaannya itu" si Capung yang lentik menjelaskan dengan lembut

"Hei Kalian! berhenti!" tiba-tiba prajurit kerajaan menghadang mereka di tengah jalan menuju kembali ke Danau Kilau. 1 SSK Lebah Prajurit.

"Kenapa kalian ada disini??!" tanya komandan mereka.

Capung dan pelikan saling menatap heran.

"Apa kalian tidak mengetahui kalau Dunia Binatang dalam keadaan SSD? 'Sepertinya Sedikit Darurat'??" dan kalian tahu kan kalau ini terjadi semua mahluk diharuskan untuk tinggal di kandangnya masing-masing sampai keadaan 'Sedikit Darurat' ini di cabut dan kembali pada kondisi SSA 'Sepertinya Sangat Aman'!?"

"maaf, komandan pak kami baru saja berjalan menuju awan di ujung gunung Awan sebelah timur kami ada urusan mendesak disana jadi kami tidak mengetahui keadaan yang ada di negeri binatang bahkan kami tidak mendengar alarm Ayam hutan berbunyi maka dari itu kami biasa saja berjalan disini tapi kami... aduuuh!" tiba-tiba capung menggigit sayap pelikan untuk menghentikannya bicara.

Sang komandan Lebah Prajurit dengan -Jarum yang lancip mengkilap terhunus di belakangnya yang siap menyentup siapa saja- itu sedikit heran dengan tingkah laku capung dan pelikan.

"maaf pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Capung pelan.

"dikabarkan ada yang melihat NAGA!"

"NAGA?!?!" pelikan dan capung kaget dan heran

"Naga itu beneran ada hidup dan bisa dilihat? aku hanya mendengarnya dari nenenkku saja cerita-cerita tentangnya aku belum pernah...."
"DIAM!" Capung dan dengan spontan sang komandan pun berteriak

To be continued...

continued,...


Naga Barat terbangun, lapar seperti biasa, dan satu keringat mengalir menetes lewat sisik belakang punggungnya. Dengan matanya yang masih tertutup kotoran mata keemasan, ia menguap panjang. Lalu ia meregangkan kaki depannya. Menarik punggungnya hingga sisiknya bergemerisik, dan menjulurkan kaki belakangnya ke belakang. Lalu Naga mulai berguling dan menggaruk perutnya yang keras.

Sambil bermain-main setengah tidur, ia menghembuskan nafas sebal. Sudah beberapa kali ini ia dimarahi oleh Mendiang Ayahnya lewat mimpi.

Hanya ada empat Naga dalam setiap masa di dunia hewan. Dua Naga Betina dan dua Naga Jantan. Masing-masing tinggal di Lembah Utara, Bukit Timur, Pantai Barat, dan Danau Selatan. Namun jarang sekali hewan yang mengetahui hal ini. Bagi banyak dari hewan itu, Naga adalah hewan legenda yang tak pernah mampir dalam pekarangan mereka. Bagi sebagian hewan lain, Naga hanya tinggal di gunung tinggi, karena kecerobohan Naga Bukit Timur dalam menyamar ketika pergi berjalan-jalan beberapa waktu lalu.

Setiap satu kali dalam masa kehidupan Naga, mereka akan bertemu dengan pasangannya masing-masing, Naga Barat bertemu dengan Naga Timur, dan Naga Utara mendatanglalu melahirkan satu anak Naga Jantan yang akan ditebus oleh kematian Sang Ayah Naga, dan melahirkan satu anak Naga Betina, yang akan menghilangkan nyawa Sang Ibu Naga.

Namun para orangtua Naga akan berkomunikasi dengan anak-anak mereka lewat mimpi dalam tidur mereka yang sangat panjang.

Naga Barat akhir-akhir ini sering dimarahi karena ia pernah tertangkap mata oleh ular sedang memetik bunga di suatu padang yang sepi. Dan karena alasan konyol itulah, orangtuanya memarahi ia bermalam-malam dalam tidurnya.

Sambil berpikir bahwa udara sangat hangat, dan akan sangat mengasyikkan untuk tidur kembali, meski itu berarti ia masih harus menahan lapar, dan bertemu Ayahnya yang senang mengomel ringan, Naga Barat pun memutuskan untuk tidur.

Belum sempat Naga Barat memejamkan mata, Biji Dandelion menegurnya. "Naba! (Panggilan untuk Naga Barat)" Dan Naga Barat menegakkan kupingnya.

"Saatnya tiba." Biji Dandelion berbisik sesaat sebelum kembali ke dalam peluk angin yang membawanya pergi.

Naga Barat pun kembali membuka mata, dan berpikir bosan, "Duh, harus mencari makan sekarang, sebelum waktu tiba dan kaum Naga mulai bergerak." Lalu ia mengibaskan ekornya dan menyelinap ke dalam pasir dan memakan puluhan kerang-kerang, kepiting, ikan pasir, dan akar bakau.

Sementara itu Biji Dandelion terbang ke tempat Naga terakhir, Naga Selatan-Gala.

Gala, Sang Naga Selatan tinggal di dasar danau musim semi di suatu tempat yang sangat jauh, dan sangat indah. Gala juga merupakan satu-satunya Naga yang mampu hidup di air lebih dari 100 tahun tanpa menyentuh udara di atas danau sedikitpun. Dan Gala, adalah satu-satunya Naga yang pernah menyelam hingga ke dasar Samudera Dunia Hewan.

Oleh sebab itu, Biji Dandelion sangat terkejut melihat padang menuju danau musim semi tempat Gala tinggal terlihat sangat kotor dan berantakan, seolah serombongan hewan lari terbirit-birit di atas padang tersebut. Namun keterkejutan tersebut bertambah ketika Biji Dandelion melihat danau musim semi tempat Gala tinggal berwarna merah dan berbau anyir.

Biji Dandelion terhenyak, dan terjatuh dari genggaman angin ke dalam dinginyya air danau musim semi tersebut.

"Gala!" Bisik Biji Dandelion kepada seluruh butiran air yang meregang di permukaan danau.

"Gala." Bisik Biji Dandelion kepada gelembung udara yang biasa meniupkan pesan dari tanah dasar danau.

"Gala..." Bisik Biji Dandelion lagi, kali ini entah kepada siapa ia berbisik.

Dan tak ada jawaban dari Naga Selatan, Air Danau ataupun sekedar pesan dari tanah dasar danau.

Regangan air terpecah, dan Biji Dandelion perlahan tenggelam dalam danau musim semi, menyelimuti dirinya dengan air anyir merah, sisik keemasan milik Naga, dan rahasia tentang kematian satu ekor Naga dari Selatan.


to be contineud....


....continued


Semua unggas tahu pentingnya istilah "kabar burung." Istilah yang sangat mendebarkan. Terakhir kali sebuah kabar burung berdebar, adalah setahun sebelum Raja Singa mengundurkan diri dan Simba, penerusnya, pergi dari dunia binatang. Sayanganya, kabar burung hanya dapat dimengerti oleh keluarga besar para unggas....... dan Naga tentu saja.

Jadi ketika Bunda Angsa menoleh perlahan ke arah Capung dan Kura-kura, ia tahu, lagi-lagi ini kali ia harus menahan diri untuk tidak memberitahu kabar burung terbaru kepada si Bebek.

Konon, dalam setiap kesempatan kabar burung terdengar, satu unggas harus dikorbankan, dan Naga harus dibangunkan. Tapi tentu saja mungkin itu hanya mitos. Karena pada saat kabar burung sebelumnya terjadi, tidak ada satupun unggas yang tewas. Dan Naga? Sampai sekarang, tidak banyak hewan yang benar-benar pernah melihatnya. Pengakuan hewan-hewan yang pernah melihatnya pun tidak terlalu dapat dipercaya. Ular? Ah, dia juga pernah bilang bahwa dia dapat tidur sepanjang musim panas dan dingin satu tahun penuh. Konyol sekali. Kumbang? Dengan mata kecilnya dan sayap lemahnya apa benar ia pernah benar-benar bertemu Naga yang sedang terbang di langit? Melompati pohon kebijaksanaan saja sudah menguras habis nafasnya.

Lalu Bunda Angsa kembali memperhatikan Bebek. Dalam hati ia mendesah. Bebek ini adalah satu-satunya unggas yang seharusnya sudah mendengar mengenai kabar burung ini, namun tampaknya ia akan menjadi unggas terakhir yang tahu. Semua karena insiden ciuman dengan si babi kecil itu.

Di perjalanan, larva capung dari dalam danau berteriak pada Capung. "Hsssuuuuui!" Capung segera menoleh, "ada apa Dik?" Larva capung segera mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang segera ditanggapi dengan seru oleh si Capung, "Oh ya? Hah? Lagi-lagi! Kamu yakin"

Para binatang di rombongan kecil itu terpaksa menghentikan langkah mereka dan menunggu Capung menyelesaikan pembicaraannya.

Tak lama, Capung kembali kepada mereka, dan setengah meminta maaf. "Aku harus pergi. Ada masalah dengan hujan, dan kami harus mulai membujuk awan lagi. Merepotkan!" Keluhnya.
"Bi..bi..cara dengan Hujan?" Pelikan tiba-tiba tergagap. "Aku juga mau ikut ya!" Pelikan setengah menjerit.

"Pelikan,,ini bukan main-main! Aku harus terbang ke sisi atas timur gunung! Kamu yakin bisa mengikuti aku terbang dengan kecepatan tinggi?" Capung mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi.

"Aku sangat-sangat-sangat pintar terbang dengan kecepatan super! Ayolah, Capung! Aku sangat ingin bicara dengan hujan!" Pelikan memelaskan suaranya. Namun Capung tak terlalu peduli, dan hanya berbisik setengah menantang, "Aku takkan menunggu."

Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera terbang ke langit dan menghilang di balik daun-daun pohon Eek yang agak keemasan karena kilai sinar matahari yang terpantul dari Danau.

Tiba-tiba Bunda Angsa segera menekan si Kura-kura dalam tempurunganya dan mengikatnya dengan tali yang dibawanya dalam keranjang belanjanya. "Bunda!" Pekik Bebek dan Soang terkejut.

"Soang, segera bawa Kura-kura ke Pantai Bakau dan beritahu pada Ayahnya bahwa Kabar Burung telah tiba! Kecuali, ia ingin Para Elang memakan semua bayi Penyu dan menggores tempurung mereka, ini waktu bagi mereka untuk berjalan di bawah pasir! Cepat!" Bunda Angsa terlihat menakutkan dengan suaranya yang begitu tegas. Belum pernah dalam satu masa hidup Bebek, ia melihat Bunda Angsa bersikap sedemikian rupa, bahkan dalam latihan tari paling sulit sekalipun.

"Bunda?" Bebek terlihat bingung.

"Cepat ikuti aku." Angsa putih itu membuka sayapnya yang seolah berkilau keperakan dan megah, dan mulai terbang ke tengah Danau Kilau Cahaya.

Bebek yang dalam keadaan terburu-buru dan bingung, membuka sayapnya, dan setengah terjatuh ke air , sebelum ia dapat menstabilkan berat tubuhnya di atas angin, dan mengisi penuh paru-parunya dengan udara.

Dan mereka berhenti untuk diam menduduki air di tengah Danau.

Lalu Bunda Angsa mulai bicara. "Rapat dunia binatang sudah mulai. Namun kita, bangsa unggas, memiliki rapat kita sendiri, bahasa kita sendiri dan dunia kita sendiri. Tidak ada satupun di antara para binatang besar yang mampu hidup di antara tanah dan angin kecuali kita. Para serangga lebih memilih untuk menghamba pada kehidupan alam, dan melayani binatang lain. Tapi kita memiliki kesombongan tersendiri yang membuat kita berbeda."

Bebek tidak terkejut, mendengarnya, ini adalah salah satu bab yang tertulis di buku pelajarannya saat ia mulai bersekolah dahulu. Tapi ia merasa bulu ekornya berdiri, ia tahu kemana ini akan membawanya. Kabar Burung, dan Si Pembawa Kabar Bayangan. Bebek hanya menelan ludahnya dan menggerak-gerakkan kakinya di bawah air cemas.


to be continued......



..Continued
Si Luak (sejenis kucing -yg kotorannya di bikin kopi luwak -kopi paling mahal) terkejut dengan pengawal istana para prajurit lebah mengatakan Raja Beruang Besar sedang sibuk. karena baru saja dia mendapatkan tugas untuk menjemput si Babi ini agar bisa menceritakan dengan jelas ada apa dengan isu Virus flu yang konon disebarkan oleh si babi.

"ehm.. begini Prajurit istana terhormat, saya mohon untuk memberi konfirmasi kepada sang raja, karena saya mendapat perintah langsung dari beliau. ini masalah keamanan Nasional Negeri Binatang." burung Dodo memohon.

"Masalah keamanan apa?" tanya lebah tidak percaya.
"Kami tidak bisa mengatakan hal ini sekarang karena isu ini masih menjadi kerahasian Kerajaan, ayolah kamu sudah menerima surat resmi dengan cap asli Kerajaan" bujuk luak lagi, dia agak memaklumi dengan urusan birokrasi di Dunia Binatang yang tidak pernah selesai tanpa masalah, pasti ada aja yang menjadi kendala, dia mengutuki pekerjaan para punggawa-punggawa birokrasi kerajaan. dan si Luwak tidak mengatakan tujuannyadengan si babi karena sang ada surat resmi dari negeri Manusia bahwa mereka akan mamusnahkan semua Babi di Negeri Binatang perihal Virus flu yang muncul di Negeri Manusia, yang mereka kira disebabkan oleh Babi. Luwak pikir ini kalau ini tersebar maka akan terjadi kekacauan di Dunia Binatang seperti kejadian dengan Kasus Avian flu 3 tahun belakang. dimana semua unggas di tangkapi dan di bunuh oleh Mahluk yang berjenis Manusia ini tanpa ampun, karena para unggas di tuduh menjadi penyebab virus tersebut. jadi dia lebih memilih untuk merahasiakannya, hanya dia bekantan dan para deputi-deputi kerajaan mengetahui hal ini. maka sang raja beruang memanggil Si Babi untuk menceritakan kebenaran isu ini.

"Ya..ya.. baiklah kalian bisa masuk ke istana. tapi hmm apa yang bisa kalian berikan untuk kami?" ujar lebah sambil tersenyum sinis.
Sial! umpat luwak dalam hati...
"hmm begini saja, kalian suka kopi? aku akan mengirimi 1 bungkus kopi bubuk untuk kalian setelah kami selesai dengan urusan didalam istana, bagaimana?"
"ya..baiklah. tapi ingat janjimu awas kalau ingkar. silakan lanjutkan" kata lebah sambil tersenyum dan memberikan pin dengan tulisan Tamu istana untuk dipakai mereka bertiga.

hahaha.. sebentar lagi perutku mulas dan akan kuberikan mereka biji kopi terbaik didunia -luwak tertawa dalam hati.

si babi dan burung dodo yang mengetahui maksud akal bulus luwak ikut tersenyum geli dan mengikuti si luwak menuju istana setelah memasang pin Tamu Istana tadi.

"Selamat siang yang mulia Raja Beruang Besar" salam si Dodo setelah menemui sang raja yang ternyata memang sedang sibuk.
beliau sedang sibuk berselancar di internet. terpaku di depan layar datar monitor yang tertampang situs pertemanan kebinatangan : BonBin.com yang sedang menjadi trend baru didunia binatang.

"ya..ya.. ada apa?" jawab sang raja tanpa menolehkan pandangannya.
"Kami sudah membawa si Babi ke Istana yang mulia seperti perintah yang mulia" jawab si Luwak dengan rasa hormat.
Si beruang besar ini sebenarnya baru diangkat menjadi raja, sebelumnya Raja Hutan Singa raja dunia binatang wafat dan simba anak laki2 satu-satunya pewaris tahta sudah meningglkan negeri binatang dan menjadi bintang film di dunia Manusia.
akhirnya di putuskan untuk mengadakan Pemilu pertama kali di dunia binatang setelah 32 tahun Singa menjadi raja dan akhirnya Si Beruang Besar menjadi Raja dengan hasil suara terbanyak dari pesaing2nya si Badak cula satu dan Si Tapir yang sekarang menjadi gila karena kalah dalam pemilu, konon dia sudah menghabiskan seluruh kekayaannya untuk kampanye.

"owh.. baiklah kalau begitu.. sebentar, silakan kalian ke ruang pertemuan nanti saya menyusul. tolong antar mereka dan panggil Asisten Deputi KemBuBIIDDBin (Kementerian Binatang Urusan Bencana Isu Internal Dalam Dunia Binatang)" Sang raja menyuruh ajudannya si Panda bulet kecil, tetap dengan tidak menolehkan pandangannya dari layar datar monitornya.

'Lagi rapat masalah isu internal negeri Binatang' - tulis Raja beruang di Status Updates BonBin.com nya sebelum menekan tombol Logout.

To be Continued...

...Continued

Ia memulai dari pertemuan pertamanya dengan si babi di danau Kilau Cahaya. Lalu pertemuan keduanya di tempat yang sama di tengah malam saat babi memergoki bebek tersebut sedang tersedu karena bertengkar dengan Capung mengenai gerakan tarian musim dingin yang harus sudah dihafal esok harinya. Bebek juga bercerita tentang pertemuan ketiga di danau yang sama saat musim dingin membuat lengket kaki bebek, dan babi itu menolongnya menarik kakinya. Dan sambil bersemu memerah pipinya, bebek terus bercerita tentang pertemuan mereka di kesempatan-kesempatan berikutnya.
Namun sebelum ia melanjutkan ceritanya hingga ke ciuman yang menghebohkan itu, Pelikan sudah terlanjur memekik kesal, "Dan kamu tidak cerita kepada kami selama ini?"
Capung juga mendesah sebal,"Uh, Bebek, kamu bilang kamu sudah tidak mempermasalahkan tarian musim dingin itu lagi!"
Dan kura-kura tergagap," Su..su..sud..ah..dah..lah..! k..k...ki..ta..k..kan..."
"Diam kau,Kura-kura!" Sergah Pelikan dan Capung bersamaan.

"Aku..aku.." Bebek agak ragu menjelaskannya.

"Selama ini kamu selalu menghabiskan waktu sendirian, dan kami tidak pernah protes. Tapi selama ini alasanmu adalah untuk belajar menari, dan menyisik ikan untuk makan malam anak-anak bebek yang kelaparan! Ternyata selama ini kamu habiskan untuk bermain dengan Babi yang baru sekali ini kami dengar ceritanya? Padahal..."
"PELIKAN!!" Capung dan Kura-kura (yang memang tidak pernah gagap untuk menghentikan Pelikan.) berteriak bersamaan.
"Aku juga sangat kesal dengan masalah tarian itu, tapi kita tidak akan tahu alasan sebenarnya kalau kamu tidak memberi bebek kesempatan bicara!" Capung berusaha mengambil alih pembicaraan, berharap ada alasan rasional yang dapat membuatnya memaafkan perasaan dikhianati karena rupanya Bebek masih terluka akibat pertengkaran sepele yang lalu. Sesuatu yang membangkitkan perasaan bersalah pada Capung. Hewan bersayap itu berpikir, ia dulu tidak menyakiti perasaan sahabatnya, Bebek, sampai mendalam seperti itu, dan ia menjadi kecewa pada dirinya sendiri, karena bersikap kurang peka.

Bebek mengambil nafas pelan, "Aku tidak tahu apakah aku boleh mengatakan hal ini."

"Tapi saya tahu." Jawab suara bijak di belakang mereka.

Bebek, Capung, Pelikan, dan Kura-kura serentak menengok ke belakang dan menemukan Bunda Angsa, dan Soang ("Binatang pendek berbulu mirip bebek yang bulunya kotor, dan entah kenapa dia terlihat begitu menyebalkan," pikir Pelikan.)

"Bunda Angsa!" Semua teman-teman Bebek berteriak girang. Bebek hanya memandang kagum sosok anggun Bunda Angsa.

"Maaf ya, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Saya baru saja mau menuju kandang angsa setelah mengumpulkan beberapa Katak Strawberry untuk ditukarkan pada Kalajengkin esok pagi. Kalian mau berjalan bersama ke kandang angsa."

Dan mereka pun berjalan bersama-sama menuju kandang angsa.



To be contined....

...continued



Kembali kepada si Bebek yang sedang termenung di dkandangnya.

"bek...bebek.. hey" Tok.tok..tok Teman-teman Bebek ternyata datang menghampiri Bebek yang masih dalam kandangnya tersendu diatas jerami. "Ini aku Capung" aku disini bersama yang lain... Saut Capung memanggil kedalam kandang.
di belakangnya sudah berdiri Kura-Kura Brazil dan Pelikan paruh panjang. "i..y...a, i...n.i.. k..i..t..a, a..y..o..k.e..l..u..a..r" panggil Kura-Kura Brazil dengan tergagap. Kura-Kura Brazil sahabat Bebek ini memang selalu tergagap bila bicara, tapi bisa sembuh bila dia bicara sehabis selancar di laut Ombak Besar di ujung pulau dunia binatang. dia memang peselancar yang hebat, tiap dia menepi sehabis berselancar dia akan lancar bercerita betapa ombak begitu tinggi menggulung-gulung, dan dia melakukan Ollie 360 derajat (gerakan memutar Papan skateboard -red) di atas gelombang itu dengan orang lain. tidak tergagap sama sekali. "Lihat kan aku tadi? Ollie 360 derajat ku hebat! kalian lihat kan? aku sebentar lagi akan mengalahkan Pesut itu! dan Kura-Kura Brazil lah yang akan menggantikannya sebagai Raja Ombak pada saatnya!" Ucapnya dengan lantang dan lancar sambil berseri-seri.. tapi untuk mengalahkan Pesut sang Raja Ombak dia harus melakukan Imposible Ollie 720 derajat. dan itu sangat mustahil sepertinya bagi kura-kura seperti dia yang tidak memiliki kegesitan seperti Pesut itu. tapi itu satu-satunya hal yang dia banggakan dan mimpikan.. Setiap Mahluk hidup tidak punya kehidupan bila tidak bermimpi.

Akhirnya Bebek Keluar dengan mata sembab dan bulu-bulu lusuh di badannya.
"Halo teman-teman... ada apa?" tanyanya tidak semangat.
"Kamu ini kemana saja? kami khawatir sekali dengan kamu setelah kami mendengar kabar-kabar tidak mengenakkan yang kita dengar dari para Penggosip-penggosip Burung Beo tentang kamu yang katanya dicium si BAbi kecil Jelek itu kami juga tidak mendengar kabar kamu dan menemukanmu di danau siang ini kemarin kemarinnya lagi kemarinya lagi dan kemarinya lagi sebetulnya kamu ini kemana dan kenapa kamu kok bersembunyi kami ini mau...mhmmm" "Pelikan! STOP!" tiba tiba capung berteriak dan menutup mulut si Pelikan. "Kamu ini jadi binatang Cerewet banget sih!" Protes Capung. Pelikan memang sangat cerewet. dia bisa menceritakan kejadian dalam satu hari dalam satu hembusan nafasnya. tanpa berhenti.... kadang dia juga berbicara kesana kemari tanpa juntrungan. kadang-kadang teman-temannnya kesal dengan tingkah lakunya ini tapi terasa sepi bila dia tidak ada disekitar. Dia unik, dan dia pendengar yang baik juga...jadi tidak sedikit yang selalu saja curhat tentang masalahnya dengan si Pelikan dan si Pelikan akan memberi nasihat panjang lebar tanpa putus tanpa sedikit pun menggurui, itulah kenapa dia selalu saja menjadi teman yang selalu di cari. Kelemahan yang bisa memberikan kelebihan.

"Iya, kamu kenapa? kita belum mendengar cerita dari kamu. kamu juga tidak cerita kalau kamu sedang dekat dengan si Babi itu, kami ingin kamu mencertikannya semua dari awal" lanjut si Capung.
"i....y.a, k..a..m.i. m..a..u..y..a.n.g..k..o..m.p..l..it..c..e..ri..ta..n..ya.." tambah si Kura-Kura Brazil.
"Baik-baik, aku akan bercerita.. mungkin sebaiknya kita sambil berjalan menuju ke kandang Bunda Angsa. aku butuh nasihat dari dia.." Sambut Si Bebek.

Capung, Kura-Kura, Dan Pelikan sepakat unutuk berjalan menuju Kandang Bunda Angsa,Capung terbang rendah tentunya. Bunda Angsa adalah guru Menari Si Bebek dan Sudah dianggap Seperti Ibu kandung sendiri oleh si Bebek yang Sudah tidak memiliki Ibu lagi. begitu juga sebaliknya ,Sang Bunda Angsa juga menganggap Si Bebek Anaknya sendiri.
"Jadi kita akan ke kandang Bunda Angsa, yang terletak di sebelah utara Danau Kilau tapi aku dengar dia sudah memiliki murid baru yang bernama Soang aku geli mendengarnya soang mana bisa soang bisa menari aku pikir....."
"PELIKAN!!" Teriak Teman-teman yang lain protes.

si Bebek mulai bercerita....


to be continued....

...continued

Sepanjang perjalanan Bekantan dan Dodo terus menerus cekikikan menceritakan kabar burung. Dodo, dengan sangat bersemangat bercerita, "Kalau sampai tidak terbukti, berani bersumpah deh, biar saja anak-cucu Dodo punah!!" Ditimpali dengan gelak Bekantan yang dengan bersemangat berteriak, " Yah, kalau sampai terbukti sebaliknya, saya berani bersumpah biar saya minum semua kotoran si Luak ini." Dan mereka tertawa bagai dua binatang sinting sepanjang jalan.

Luak dengan wajah sok tenangnya mencoba mengingatkan, " Hei, kalian lupa betapa tajamnya telinga Raja Beruang?" Dan bersamaan dengan kata-kata itu, senyaplah seketika pembicaraan antar Bekantan, dan Dodo. Mereka saling melirik, dan diam menahan tawa masing-masing. Tapi ketenangan itu terusik oleh beberapa lusin lebah yang muncul dari entah mana mengelilingi mereka, menghadang jalan mereka.

"Siapa kalian?" Ketus salah satu lebah dengan tangan belepotan madu putih yang keruh.

"Kami dipanggil oleh Sang Raja Besar kesini." Jawab Dodo setengah berteriak. Lalu ia mengeluarkan sehelai surat dari anyaman rami yang sangat halus, dan menyerahkan rami itu pada gerombolan lebah.

Lebah-lebah itu berkumpul dan membaca anyaman dan ikatan rami. Berusaha memecah sandi yang tersembunyi dalam surat tanpa tulisan itu. Bekantan, yang terlihat cemas, segera menunduk malu hingga merah ujung hidungnya. Dodo yang melihat kegelisahan si Bekantan hanya berbisik, "Ya, perjalanan kamu boleh berhenti disini. Ingat, jangan sebarluaskan berita burung tadi. Semua berita burung hanya dapat dimengerti jika dijelaskan oleh kaum kami, jangan coba-coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri."

Bekantan tergagap," Bagaimana kamu akan tahu jika kabar burung itu tersebar oleh aku atau oleh babi jelek itu?"

Dodo mendengus malas, "Babi jelek ini takkan mengerti. Mencium bebek? Puh.. Makhluk apapun yang berani-beraninya mencium bebek dari kandang sebelah danau petaka itu pasti sudah tak punya otak. Bebek? Ya ampun,, dari semua makhluk yang tercipta di muka bumi ini?"

Babi kecil jelek mendelik marah dengan muka padam. Ia sangat kesal. Ia sangat marah, dan ia hampir saja melompat untuk menggigit pantat besar Dodo yang sok tahu itu, ketika tiba-tiba Bekantan berteriak melenguh dan gerombolan lebah menyingkir memberi jalan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Bekantan melompat ke atas pohon, dan berayun menghilang dari antara mereka.

Seekor lebah di sebelah telinga babi berbisik kesal pada lebah lain di sebelahnya, "Kabar burung itu lagi?" Babi kecil segera menatap mereka dengan penuh tanda tanya. "Lagi?" Si lebah, yang menyadari babi itu mendengar ucapannya berbisik lebih pelan lagi, namun kali ini ia membisikkan kata-katanya untuk babi, "Hei, kamu sangat pintar memilih seekor bebek paling cantik untuk dicium. Pada saatnya, kamu tidak akan menyesal barang setetespun."

Dan muka babi kecil kembali merah padam, karena malu dan terbayang paruh manis itu kembali. Ia mencoba mengalihkan pandangannya pada lebah dengan tangan berlumur madu yang sedang membaca surat dari rami.

"Raja sibuk! Kembali besok atau ingin menyelesaikan urusan ini dengan bertemu Asisten Deputi KemBuBIIDDBin (Kementerian Binatang Urusan Bencana Isu Internal Dalam Dunia Binatang) ?" Ketus lebah yang selesai membaca gulungan rami seraya menyerahkan surat itu ke paruh bengkok besar Dodo.




to be continued......