Discover fascinating and informative short stories on our blog. From historical events to natural world facts, our random stories will captivate you. Read now and expand your knowledge in a fun and enjoyable way!
Rabu, 24 Juni 2009
Senin, 15 Juni 2009
BAB sebelas SSD
contined....
"Aku senang sekali aku bisa bicara dengan hujan! kenapa jga kmu tidak pernah mengajakku sebelumnya berbicara dengan hujan... kamu tahu aku memujanya bahkan aku sangat sekali memuja hujan dia begitu tenang sejuk aplagi musik yang dia bunyikan melalui ketukan-ketukannya yang halus..."
"Pelikan, diam!" Capung mengingatkan kebiasaan buruk sahabatnya itu
"Tadi itu bukan pekerjaan yang main-main. bisa jadi berbahaya, kau kan tahu apa yang terjadi jika awan terus menangis dan marah? hujan pun akan menjadi buas... kau tidak ingat cerita moyang kita dulu saat mereka naik Bahtera Nuh? itulah ketika hujan sendirian menangis dan mereka mencoba berbicara padanya namun malah bikin tersinggung akhirnya dia menangis lebih keras 30 malam tanpa henti. itulah mengapa kita kadang-kadang mengganggap semua permasalahan yang dihadapi binatang lain sepele, kita tidak pernah tahu, maka dari itu hati-hati dengan hal-hal yang ,menyangkut perasaan orang"
"Iya aku juga pernah mengalaminya waktu sebuah Dandelion yang curhat tentang betapa dia benci pada angin yang selalu membuat dirinya melambung lambung tapi tidak pernah bisa menyentuhnya aku lalu membuat dia sedikit tersinggung hingga dia merontokan serbuk-serbuk halusnya padahal aku tidak bermaksud untuk menghina dia aku hanya bilang kalau..."
"Pelikan...cukup, aku mengertti maksudmu, ditambah lagi kam sudah menceritakan ini semu lusa bukan? itu yang aku maksud, kita tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan, jadi yang paling baik adalah mendengarkan dan biar dia yang menyelesaikan sendiri perasaannya itu" si Capung yang lentik menjelaskan dengan lembut
"Hei Kalian! berhenti!" tiba-tiba prajurit kerajaan menghadang mereka di tengah jalan menuju kembali ke Danau Kilau. 1 SSK Lebah Prajurit.
"Kenapa kalian ada disini??!" tanya komandan mereka.
Capung dan pelikan saling menatap heran.
"Apa kalian tidak mengetahui kalau Dunia Binatang dalam keadaan SSD? 'Sepertinya Sedikit Darurat'??" dan kalian tahu kan kalau ini terjadi semua mahluk diharuskan untuk tinggal di kandangnya masing-masing sampai keadaan 'Sedikit Darurat' ini di cabut dan kembali pada kondisi SSA 'Sepertinya Sangat Aman'!?"
"maaf, komandan pak kami baru saja berjalan menuju awan di ujung gunung Awan sebelah timur kami ada urusan mendesak disana jadi kami tidak mengetahui keadaan yang ada di negeri binatang bahkan kami tidak mendengar alarm Ayam hutan berbunyi maka dari itu kami biasa saja berjalan disini tapi kami... aduuuh!" tiba-tiba capung menggigit sayap pelikan untuk menghentikannya bicara.
Sang komandan Lebah Prajurit dengan -Jarum yang lancip mengkilap terhunus di belakangnya yang siap menyentup siapa saja- itu sedikit heran dengan tingkah laku capung dan pelikan.
"maaf pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Capung pelan.
"dikabarkan ada yang melihat NAGA!"
"NAGA?!?!" pelikan dan capung kaget dan heran
"Naga itu beneran ada hidup dan bisa dilihat? aku hanya mendengarnya dari nenenkku saja cerita-cerita tentangnya aku belum pernah...."
"DIAM!" Capung dan dengan spontan sang komandan pun berteriak
To be continued...
"Aku senang sekali aku bisa bicara dengan hujan! kenapa jga kmu tidak pernah mengajakku sebelumnya berbicara dengan hujan... kamu tahu aku memujanya bahkan aku sangat sekali memuja hujan dia begitu tenang sejuk aplagi musik yang dia bunyikan melalui ketukan-ketukannya yang halus..."
"Pelikan, diam!" Capung mengingatkan kebiasaan buruk sahabatnya itu
"Tadi itu bukan pekerjaan yang main-main. bisa jadi berbahaya, kau kan tahu apa yang terjadi jika awan terus menangis dan marah? hujan pun akan menjadi buas... kau tidak ingat cerita moyang kita dulu saat mereka naik Bahtera Nuh? itulah ketika hujan sendirian menangis dan mereka mencoba berbicara padanya namun malah bikin tersinggung akhirnya dia menangis lebih keras 30 malam tanpa henti. itulah mengapa kita kadang-kadang mengganggap semua permasalahan yang dihadapi binatang lain sepele, kita tidak pernah tahu, maka dari itu hati-hati dengan hal-hal yang ,menyangkut perasaan orang"
"Iya aku juga pernah mengalaminya waktu sebuah Dandelion yang curhat tentang betapa dia benci pada angin yang selalu membuat dirinya melambung lambung tapi tidak pernah bisa menyentuhnya aku lalu membuat dia sedikit tersinggung hingga dia merontokan serbuk-serbuk halusnya padahal aku tidak bermaksud untuk menghina dia aku hanya bilang kalau..."
"Pelikan...cukup, aku mengertti maksudmu, ditambah lagi kam sudah menceritakan ini semu lusa bukan? itu yang aku maksud, kita tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan, jadi yang paling baik adalah mendengarkan dan biar dia yang menyelesaikan sendiri perasaannya itu" si Capung yang lentik menjelaskan dengan lembut
"Hei Kalian! berhenti!" tiba-tiba prajurit kerajaan menghadang mereka di tengah jalan menuju kembali ke Danau Kilau. 1 SSK Lebah Prajurit.
"Kenapa kalian ada disini??!" tanya komandan mereka.
Capung dan pelikan saling menatap heran.
"Apa kalian tidak mengetahui kalau Dunia Binatang dalam keadaan SSD? 'Sepertinya Sedikit Darurat'??" dan kalian tahu kan kalau ini terjadi semua mahluk diharuskan untuk tinggal di kandangnya masing-masing sampai keadaan 'Sedikit Darurat' ini di cabut dan kembali pada kondisi SSA 'Sepertinya Sangat Aman'!?"
"maaf, komandan pak kami baru saja berjalan menuju awan di ujung gunung Awan sebelah timur kami ada urusan mendesak disana jadi kami tidak mengetahui keadaan yang ada di negeri binatang bahkan kami tidak mendengar alarm Ayam hutan berbunyi maka dari itu kami biasa saja berjalan disini tapi kami... aduuuh!" tiba-tiba capung menggigit sayap pelikan untuk menghentikannya bicara.
Sang komandan Lebah Prajurit dengan -Jarum yang lancip mengkilap terhunus di belakangnya yang siap menyentup siapa saja- itu sedikit heran dengan tingkah laku capung dan pelikan.
"maaf pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Capung pelan.
"dikabarkan ada yang melihat NAGA!"
"NAGA?!?!" pelikan dan capung kaget dan heran
"Naga itu beneran ada hidup dan bisa dilihat? aku hanya mendengarnya dari nenenkku saja cerita-cerita tentangnya aku belum pernah...."
"DIAM!" Capung dan dengan spontan sang komandan pun berteriak
To be continued...
Jumat, 12 Juni 2009
Jilid Sepuluh (Naga)
continued,...
Naga Barat terbangun, lapar seperti biasa, dan satu keringat mengalir menetes lewat sisik belakang punggungnya. Dengan matanya yang masih tertutup kotoran mata keemasan, ia menguap panjang. Lalu ia meregangkan kaki depannya. Menarik punggungnya hingga sisiknya bergemerisik, dan menjulurkan kaki belakangnya ke belakang. Lalu Naga mulai berguling dan menggaruk perutnya yang keras.
Sambil bermain-main setengah tidur, ia menghembuskan nafas sebal. Sudah beberapa kali ini ia dimarahi oleh Mendiang Ayahnya lewat mimpi.
Hanya ada empat Naga dalam setiap masa di dunia hewan. Dua Naga Betina dan dua Naga Jantan. Masing-masing tinggal di Lembah Utara, Bukit Timur, Pantai Barat, dan Danau Selatan. Namun jarang sekali hewan yang mengetahui hal ini. Bagi banyak dari hewan itu, Naga adalah hewan legenda yang tak pernah mampir dalam pekarangan mereka. Bagi sebagian hewan lain, Naga hanya tinggal di gunung tinggi, karena kecerobohan Naga Bukit Timur dalam menyamar ketika pergi berjalan-jalan beberapa waktu lalu.
Setiap satu kali dalam masa kehidupan Naga, mereka akan bertemu dengan pasangannya masing-masing, Naga Barat bertemu dengan Naga Timur, dan Naga Utara mendatanglalu melahirkan satu anak Naga Jantan yang akan ditebus oleh kematian Sang Ayah Naga, dan melahirkan satu anak Naga Betina, yang akan menghilangkan nyawa Sang Ibu Naga.
Namun para orangtua Naga akan berkomunikasi dengan anak-anak mereka lewat mimpi dalam tidur mereka yang sangat panjang.
Naga Barat akhir-akhir ini sering dimarahi karena ia pernah tertangkap mata oleh ular sedang memetik bunga di suatu padang yang sepi. Dan karena alasan konyol itulah, orangtuanya memarahi ia bermalam-malam dalam tidurnya.
Sambil berpikir bahwa udara sangat hangat, dan akan sangat mengasyikkan untuk tidur kembali, meski itu berarti ia masih harus menahan lapar, dan bertemu Ayahnya yang senang mengomel ringan, Naga Barat pun memutuskan untuk tidur.
Belum sempat Naga Barat memejamkan mata, Biji Dandelion menegurnya. "Naba! (Panggilan untuk Naga Barat)" Dan Naga Barat menegakkan kupingnya.
"Saatnya tiba." Biji Dandelion berbisik sesaat sebelum kembali ke dalam peluk angin yang membawanya pergi.
Naga Barat pun kembali membuka mata, dan berpikir bosan, "Duh, harus mencari makan sekarang, sebelum waktu tiba dan kaum Naga mulai bergerak." Lalu ia mengibaskan ekornya dan menyelinap ke dalam pasir dan memakan puluhan kerang-kerang, kepiting, ikan pasir, dan akar bakau.
Sementara itu Biji Dandelion terbang ke tempat Naga terakhir, Naga Selatan-Gala.
Gala, Sang Naga Selatan tinggal di dasar danau musim semi di suatu tempat yang sangat jauh, dan sangat indah. Gala juga merupakan satu-satunya Naga yang mampu hidup di air lebih dari 100 tahun tanpa menyentuh udara di atas danau sedikitpun. Dan Gala, adalah satu-satunya Naga yang pernah menyelam hingga ke dasar Samudera Dunia Hewan.
Oleh sebab itu, Biji Dandelion sangat terkejut melihat padang menuju danau musim semi tempat Gala tinggal terlihat sangat kotor dan berantakan, seolah serombongan hewan lari terbirit-birit di atas padang tersebut. Namun keterkejutan tersebut bertambah ketika Biji Dandelion melihat danau musim semi tempat Gala tinggal berwarna merah dan berbau anyir.
Biji Dandelion terhenyak, dan terjatuh dari genggaman angin ke dalam dinginyya air danau musim semi tersebut.
"Gala!" Bisik Biji Dandelion kepada seluruh butiran air yang meregang di permukaan danau.
"Gala." Bisik Biji Dandelion kepada gelembung udara yang biasa meniupkan pesan dari tanah dasar danau.
"Gala..." Bisik Biji Dandelion lagi, kali ini entah kepada siapa ia berbisik.
Dan tak ada jawaban dari Naga Selatan, Air Danau ataupun sekedar pesan dari tanah dasar danau.
Regangan air terpecah, dan Biji Dandelion perlahan tenggelam dalam danau musim semi, menyelimuti dirinya dengan air anyir merah, sisik keemasan milik Naga, dan rahasia tentang kematian satu ekor Naga dari Selatan.
to be contineud....
Naga Barat terbangun, lapar seperti biasa, dan satu keringat mengalir menetes lewat sisik belakang punggungnya. Dengan matanya yang masih tertutup kotoran mata keemasan, ia menguap panjang. Lalu ia meregangkan kaki depannya. Menarik punggungnya hingga sisiknya bergemerisik, dan menjulurkan kaki belakangnya ke belakang. Lalu Naga mulai berguling dan menggaruk perutnya yang keras.
Sambil bermain-main setengah tidur, ia menghembuskan nafas sebal. Sudah beberapa kali ini ia dimarahi oleh Mendiang Ayahnya lewat mimpi.
Hanya ada empat Naga dalam setiap masa di dunia hewan. Dua Naga Betina dan dua Naga Jantan. Masing-masing tinggal di Lembah Utara, Bukit Timur, Pantai Barat, dan Danau Selatan. Namun jarang sekali hewan yang mengetahui hal ini. Bagi banyak dari hewan itu, Naga adalah hewan legenda yang tak pernah mampir dalam pekarangan mereka. Bagi sebagian hewan lain, Naga hanya tinggal di gunung tinggi, karena kecerobohan Naga Bukit Timur dalam menyamar ketika pergi berjalan-jalan beberapa waktu lalu.
Setiap satu kali dalam masa kehidupan Naga, mereka akan bertemu dengan pasangannya masing-masing, Naga Barat bertemu dengan Naga Timur, dan Naga Utara mendatanglalu melahirkan satu anak Naga Jantan yang akan ditebus oleh kematian Sang Ayah Naga, dan melahirkan satu anak Naga Betina, yang akan menghilangkan nyawa Sang Ibu Naga.
Namun para orangtua Naga akan berkomunikasi dengan anak-anak mereka lewat mimpi dalam tidur mereka yang sangat panjang.
Naga Barat akhir-akhir ini sering dimarahi karena ia pernah tertangkap mata oleh ular sedang memetik bunga di suatu padang yang sepi. Dan karena alasan konyol itulah, orangtuanya memarahi ia bermalam-malam dalam tidurnya.
Sambil berpikir bahwa udara sangat hangat, dan akan sangat mengasyikkan untuk tidur kembali, meski itu berarti ia masih harus menahan lapar, dan bertemu Ayahnya yang senang mengomel ringan, Naga Barat pun memutuskan untuk tidur.
Belum sempat Naga Barat memejamkan mata, Biji Dandelion menegurnya. "Naba! (Panggilan untuk Naga Barat)" Dan Naga Barat menegakkan kupingnya.
"Saatnya tiba." Biji Dandelion berbisik sesaat sebelum kembali ke dalam peluk angin yang membawanya pergi.
Naga Barat pun kembali membuka mata, dan berpikir bosan, "Duh, harus mencari makan sekarang, sebelum waktu tiba dan kaum Naga mulai bergerak." Lalu ia mengibaskan ekornya dan menyelinap ke dalam pasir dan memakan puluhan kerang-kerang, kepiting, ikan pasir, dan akar bakau.
Sementara itu Biji Dandelion terbang ke tempat Naga terakhir, Naga Selatan-Gala.
Gala, Sang Naga Selatan tinggal di dasar danau musim semi di suatu tempat yang sangat jauh, dan sangat indah. Gala juga merupakan satu-satunya Naga yang mampu hidup di air lebih dari 100 tahun tanpa menyentuh udara di atas danau sedikitpun. Dan Gala, adalah satu-satunya Naga yang pernah menyelam hingga ke dasar Samudera Dunia Hewan.
Oleh sebab itu, Biji Dandelion sangat terkejut melihat padang menuju danau musim semi tempat Gala tinggal terlihat sangat kotor dan berantakan, seolah serombongan hewan lari terbirit-birit di atas padang tersebut. Namun keterkejutan tersebut bertambah ketika Biji Dandelion melihat danau musim semi tempat Gala tinggal berwarna merah dan berbau anyir.
Biji Dandelion terhenyak, dan terjatuh dari genggaman angin ke dalam dinginyya air danau musim semi tersebut.
"Gala!" Bisik Biji Dandelion kepada seluruh butiran air yang meregang di permukaan danau.
"Gala." Bisik Biji Dandelion kepada gelembung udara yang biasa meniupkan pesan dari tanah dasar danau.
"Gala..." Bisik Biji Dandelion lagi, kali ini entah kepada siapa ia berbisik.
Dan tak ada jawaban dari Naga Selatan, Air Danau ataupun sekedar pesan dari tanah dasar danau.
Regangan air terpecah, dan Biji Dandelion perlahan tenggelam dalam danau musim semi, menyelimuti dirinya dengan air anyir merah, sisik keemasan milik Naga, dan rahasia tentang kematian satu ekor Naga dari Selatan.
to be contineud....
Selasa, 02 Juni 2009
9
....continued
Semua unggas tahu pentingnya istilah "kabar burung." Istilah yang sangat mendebarkan. Terakhir kali sebuah kabar burung berdebar, adalah setahun sebelum Raja Singa mengundurkan diri dan Simba, penerusnya, pergi dari dunia binatang. Sayanganya, kabar burung hanya dapat dimengerti oleh keluarga besar para unggas....... dan Naga tentu saja.
Jadi ketika Bunda Angsa menoleh perlahan ke arah Capung dan Kura-kura, ia tahu, lagi-lagi ini kali ia harus menahan diri untuk tidak memberitahu kabar burung terbaru kepada si Bebek.
Konon, dalam setiap kesempatan kabar burung terdengar, satu unggas harus dikorbankan, dan Naga harus dibangunkan. Tapi tentu saja mungkin itu hanya mitos. Karena pada saat kabar burung sebelumnya terjadi, tidak ada satupun unggas yang tewas. Dan Naga? Sampai sekarang, tidak banyak hewan yang benar-benar pernah melihatnya. Pengakuan hewan-hewan yang pernah melihatnya pun tidak terlalu dapat dipercaya. Ular? Ah, dia juga pernah bilang bahwa dia dapat tidur sepanjang musim panas dan dingin satu tahun penuh. Konyol sekali. Kumbang? Dengan mata kecilnya dan sayap lemahnya apa benar ia pernah benar-benar bertemu Naga yang sedang terbang di langit? Melompati pohon kebijaksanaan saja sudah menguras habis nafasnya.
Lalu Bunda Angsa kembali memperhatikan Bebek. Dalam hati ia mendesah. Bebek ini adalah satu-satunya unggas yang seharusnya sudah mendengar mengenai kabar burung ini, namun tampaknya ia akan menjadi unggas terakhir yang tahu. Semua karena insiden ciuman dengan si babi kecil itu.
Di perjalanan, larva capung dari dalam danau berteriak pada Capung. "Hsssuuuuui!" Capung segera menoleh, "ada apa Dik?" Larva capung segera mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang segera ditanggapi dengan seru oleh si Capung, "Oh ya? Hah? Lagi-lagi! Kamu yakin"
Para binatang di rombongan kecil itu terpaksa menghentikan langkah mereka dan menunggu Capung menyelesaikan pembicaraannya.
Tak lama, Capung kembali kepada mereka, dan setengah meminta maaf. "Aku harus pergi. Ada masalah dengan hujan, dan kami harus mulai membujuk awan lagi. Merepotkan!" Keluhnya.
"Bi..bi..cara dengan Hujan?" Pelikan tiba-tiba tergagap. "Aku juga mau ikut ya!" Pelikan setengah menjerit.
"Pelikan,,ini bukan main-main! Aku harus terbang ke sisi atas timur gunung! Kamu yakin bisa mengikuti aku terbang dengan kecepatan tinggi?" Capung mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi.
"Aku sangat-sangat-sangat pintar terbang dengan kecepatan super! Ayolah, Capung! Aku sangat ingin bicara dengan hujan!" Pelikan memelaskan suaranya. Namun Capung tak terlalu peduli, dan hanya berbisik setengah menantang, "Aku takkan menunggu."
Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera terbang ke langit dan menghilang di balik daun-daun pohon Eek yang agak keemasan karena kilai sinar matahari yang terpantul dari Danau.
Tiba-tiba Bunda Angsa segera menekan si Kura-kura dalam tempurunganya dan mengikatnya dengan tali yang dibawanya dalam keranjang belanjanya. "Bunda!" Pekik Bebek dan Soang terkejut.
"Soang, segera bawa Kura-kura ke Pantai Bakau dan beritahu pada Ayahnya bahwa Kabar Burung telah tiba! Kecuali, ia ingin Para Elang memakan semua bayi Penyu dan menggores tempurung mereka, ini waktu bagi mereka untuk berjalan di bawah pasir! Cepat!" Bunda Angsa terlihat menakutkan dengan suaranya yang begitu tegas. Belum pernah dalam satu masa hidup Bebek, ia melihat Bunda Angsa bersikap sedemikian rupa, bahkan dalam latihan tari paling sulit sekalipun.
"Bunda?" Bebek terlihat bingung.
"Cepat ikuti aku." Angsa putih itu membuka sayapnya yang seolah berkilau keperakan dan megah, dan mulai terbang ke tengah Danau Kilau Cahaya.
Bebek yang dalam keadaan terburu-buru dan bingung, membuka sayapnya, dan setengah terjatuh ke air , sebelum ia dapat menstabilkan berat tubuhnya di atas angin, dan mengisi penuh paru-parunya dengan udara.
Dan mereka berhenti untuk diam menduduki air di tengah Danau.
Lalu Bunda Angsa mulai bicara. "Rapat dunia binatang sudah mulai. Namun kita, bangsa unggas, memiliki rapat kita sendiri, bahasa kita sendiri dan dunia kita sendiri. Tidak ada satupun di antara para binatang besar yang mampu hidup di antara tanah dan angin kecuali kita. Para serangga lebih memilih untuk menghamba pada kehidupan alam, dan melayani binatang lain. Tapi kita memiliki kesombongan tersendiri yang membuat kita berbeda."
Bebek tidak terkejut, mendengarnya, ini adalah salah satu bab yang tertulis di buku pelajarannya saat ia mulai bersekolah dahulu. Tapi ia merasa bulu ekornya berdiri, ia tahu kemana ini akan membawanya. Kabar Burung, dan Si Pembawa Kabar Bayangan. Bebek hanya menelan ludahnya dan menggerak-gerakkan kakinya di bawah air cemas.
to be continued......
Semua unggas tahu pentingnya istilah "kabar burung." Istilah yang sangat mendebarkan. Terakhir kali sebuah kabar burung berdebar, adalah setahun sebelum Raja Singa mengundurkan diri dan Simba, penerusnya, pergi dari dunia binatang. Sayanganya, kabar burung hanya dapat dimengerti oleh keluarga besar para unggas....... dan Naga tentu saja.
Jadi ketika Bunda Angsa menoleh perlahan ke arah Capung dan Kura-kura, ia tahu, lagi-lagi ini kali ia harus menahan diri untuk tidak memberitahu kabar burung terbaru kepada si Bebek.
Konon, dalam setiap kesempatan kabar burung terdengar, satu unggas harus dikorbankan, dan Naga harus dibangunkan. Tapi tentu saja mungkin itu hanya mitos. Karena pada saat kabar burung sebelumnya terjadi, tidak ada satupun unggas yang tewas. Dan Naga? Sampai sekarang, tidak banyak hewan yang benar-benar pernah melihatnya. Pengakuan hewan-hewan yang pernah melihatnya pun tidak terlalu dapat dipercaya. Ular? Ah, dia juga pernah bilang bahwa dia dapat tidur sepanjang musim panas dan dingin satu tahun penuh. Konyol sekali. Kumbang? Dengan mata kecilnya dan sayap lemahnya apa benar ia pernah benar-benar bertemu Naga yang sedang terbang di langit? Melompati pohon kebijaksanaan saja sudah menguras habis nafasnya.
Lalu Bunda Angsa kembali memperhatikan Bebek. Dalam hati ia mendesah. Bebek ini adalah satu-satunya unggas yang seharusnya sudah mendengar mengenai kabar burung ini, namun tampaknya ia akan menjadi unggas terakhir yang tahu. Semua karena insiden ciuman dengan si babi kecil itu.
Di perjalanan, larva capung dari dalam danau berteriak pada Capung. "Hsssuuuuui!" Capung segera menoleh, "ada apa Dik?" Larva capung segera mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang segera ditanggapi dengan seru oleh si Capung, "Oh ya? Hah? Lagi-lagi! Kamu yakin"
Para binatang di rombongan kecil itu terpaksa menghentikan langkah mereka dan menunggu Capung menyelesaikan pembicaraannya.
Tak lama, Capung kembali kepada mereka, dan setengah meminta maaf. "Aku harus pergi. Ada masalah dengan hujan, dan kami harus mulai membujuk awan lagi. Merepotkan!" Keluhnya.
"Bi..bi..cara dengan Hujan?" Pelikan tiba-tiba tergagap. "Aku juga mau ikut ya!" Pelikan setengah menjerit.
"Pelikan,,ini bukan main-main! Aku harus terbang ke sisi atas timur gunung! Kamu yakin bisa mengikuti aku terbang dengan kecepatan tinggi?" Capung mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi.
"Aku sangat-sangat-sangat pintar terbang dengan kecepatan super! Ayolah, Capung! Aku sangat ingin bicara dengan hujan!" Pelikan memelaskan suaranya. Namun Capung tak terlalu peduli, dan hanya berbisik setengah menantang, "Aku takkan menunggu."
Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera terbang ke langit dan menghilang di balik daun-daun pohon Eek yang agak keemasan karena kilai sinar matahari yang terpantul dari Danau.
Tiba-tiba Bunda Angsa segera menekan si Kura-kura dalam tempurunganya dan mengikatnya dengan tali yang dibawanya dalam keranjang belanjanya. "Bunda!" Pekik Bebek dan Soang terkejut.
"Soang, segera bawa Kura-kura ke Pantai Bakau dan beritahu pada Ayahnya bahwa Kabar Burung telah tiba! Kecuali, ia ingin Para Elang memakan semua bayi Penyu dan menggores tempurung mereka, ini waktu bagi mereka untuk berjalan di bawah pasir! Cepat!" Bunda Angsa terlihat menakutkan dengan suaranya yang begitu tegas. Belum pernah dalam satu masa hidup Bebek, ia melihat Bunda Angsa bersikap sedemikian rupa, bahkan dalam latihan tari paling sulit sekalipun.
"Bunda?" Bebek terlihat bingung.
"Cepat ikuti aku." Angsa putih itu membuka sayapnya yang seolah berkilau keperakan dan megah, dan mulai terbang ke tengah Danau Kilau Cahaya.
Bebek yang dalam keadaan terburu-buru dan bingung, membuka sayapnya, dan setengah terjatuh ke air , sebelum ia dapat menstabilkan berat tubuhnya di atas angin, dan mengisi penuh paru-parunya dengan udara.
Dan mereka berhenti untuk diam menduduki air di tengah Danau.
Lalu Bunda Angsa mulai bicara. "Rapat dunia binatang sudah mulai. Namun kita, bangsa unggas, memiliki rapat kita sendiri, bahasa kita sendiri dan dunia kita sendiri. Tidak ada satupun di antara para binatang besar yang mampu hidup di antara tanah dan angin kecuali kita. Para serangga lebih memilih untuk menghamba pada kehidupan alam, dan melayani binatang lain. Tapi kita memiliki kesombongan tersendiri yang membuat kita berbeda."
Bebek tidak terkejut, mendengarnya, ini adalah salah satu bab yang tertulis di buku pelajarannya saat ia mulai bersekolah dahulu. Tapi ia merasa bulu ekornya berdiri, ia tahu kemana ini akan membawanya. Kabar Burung, dan Si Pembawa Kabar Bayangan. Bebek hanya menelan ludahnya dan menggerak-gerakkan kakinya di bawah air cemas.
to be continued......

