Discover fascinating and informative short stories on our blog. From historical events to natural world facts, our random stories will captivate you. Read now and expand your knowledge in a fun and enjoyable way!

Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

Senin, 15 Juni 2009

BAB sebelas SSD

Senin, Juni 15, 2009 Posted by Tito No comments
contined....


"Aku senang sekali aku bisa bicara dengan hujan! kenapa jga kmu tidak pernah mengajakku sebelumnya berbicara dengan hujan... kamu tahu aku memujanya bahkan aku sangat sekali memuja hujan dia begitu tenang sejuk aplagi musik yang dia bunyikan melalui ketukan-ketukannya yang halus..."
"Pelikan, diam!" Capung mengingatkan kebiasaan buruk sahabatnya itu
"Tadi itu bukan pekerjaan yang main-main. bisa jadi berbahaya, kau kan tahu apa yang terjadi jika awan terus menangis dan marah? hujan pun akan menjadi buas... kau tidak ingat cerita moyang kita dulu saat mereka naik Bahtera Nuh? itulah ketika hujan sendirian menangis dan mereka mencoba berbicara padanya namun malah bikin tersinggung akhirnya dia menangis lebih keras 30 malam tanpa henti. itulah mengapa kita kadang-kadang mengganggap semua permasalahan yang dihadapi binatang lain sepele, kita tidak pernah tahu, maka dari itu hati-hati dengan hal-hal yang ,menyangkut perasaan orang"

"Iya aku juga pernah mengalaminya waktu sebuah Dandelion yang curhat tentang betapa dia benci pada angin yang selalu membuat dirinya melambung lambung tapi tidak pernah bisa menyentuhnya aku lalu membuat dia sedikit tersinggung hingga dia merontokan serbuk-serbuk halusnya padahal aku tidak bermaksud untuk menghina dia aku hanya bilang kalau..."

"Pelikan...cukup, aku mengertti maksudmu, ditambah lagi kam sudah menceritakan ini semu lusa bukan? itu yang aku maksud, kita tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan, jadi yang paling baik adalah mendengarkan dan biar dia yang menyelesaikan sendiri perasaannya itu" si Capung yang lentik menjelaskan dengan lembut

"Hei Kalian! berhenti!" tiba-tiba prajurit kerajaan menghadang mereka di tengah jalan menuju kembali ke Danau Kilau. 1 SSK Lebah Prajurit.

"Kenapa kalian ada disini??!" tanya komandan mereka.

Capung dan pelikan saling menatap heran.

"Apa kalian tidak mengetahui kalau Dunia Binatang dalam keadaan SSD? 'Sepertinya Sedikit Darurat'??" dan kalian tahu kan kalau ini terjadi semua mahluk diharuskan untuk tinggal di kandangnya masing-masing sampai keadaan 'Sedikit Darurat' ini di cabut dan kembali pada kondisi SSA 'Sepertinya Sangat Aman'!?"

"maaf, komandan pak kami baru saja berjalan menuju awan di ujung gunung Awan sebelah timur kami ada urusan mendesak disana jadi kami tidak mengetahui keadaan yang ada di negeri binatang bahkan kami tidak mendengar alarm Ayam hutan berbunyi maka dari itu kami biasa saja berjalan disini tapi kami... aduuuh!" tiba-tiba capung menggigit sayap pelikan untuk menghentikannya bicara.

Sang komandan Lebah Prajurit dengan -Jarum yang lancip mengkilap terhunus di belakangnya yang siap menyentup siapa saja- itu sedikit heran dengan tingkah laku capung dan pelikan.

"maaf pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Capung pelan.

"dikabarkan ada yang melihat NAGA!"

"NAGA?!?!" pelikan dan capung kaget dan heran

"Naga itu beneran ada hidup dan bisa dilihat? aku hanya mendengarnya dari nenenkku saja cerita-cerita tentangnya aku belum pernah...."
"DIAM!" Capung dan dengan spontan sang komandan pun berteriak

To be continued...

Jumat, 12 Juni 2009

Jilid Sepuluh (Naga)

Jumat, Juni 12, 2009 Posted by Tito No comments
continued,...


Naga Barat terbangun, lapar seperti biasa, dan satu keringat mengalir menetes lewat sisik belakang punggungnya. Dengan matanya yang masih tertutup kotoran mata keemasan, ia menguap panjang. Lalu ia meregangkan kaki depannya. Menarik punggungnya hingga sisiknya bergemerisik, dan menjulurkan kaki belakangnya ke belakang. Lalu Naga mulai berguling dan menggaruk perutnya yang keras.

Sambil bermain-main setengah tidur, ia menghembuskan nafas sebal. Sudah beberapa kali ini ia dimarahi oleh Mendiang Ayahnya lewat mimpi.

Hanya ada empat Naga dalam setiap masa di dunia hewan. Dua Naga Betina dan dua Naga Jantan. Masing-masing tinggal di Lembah Utara, Bukit Timur, Pantai Barat, dan Danau Selatan. Namun jarang sekali hewan yang mengetahui hal ini. Bagi banyak dari hewan itu, Naga adalah hewan legenda yang tak pernah mampir dalam pekarangan mereka. Bagi sebagian hewan lain, Naga hanya tinggal di gunung tinggi, karena kecerobohan Naga Bukit Timur dalam menyamar ketika pergi berjalan-jalan beberapa waktu lalu.

Setiap satu kali dalam masa kehidupan Naga, mereka akan bertemu dengan pasangannya masing-masing, Naga Barat bertemu dengan Naga Timur, dan Naga Utara mendatanglalu melahirkan satu anak Naga Jantan yang akan ditebus oleh kematian Sang Ayah Naga, dan melahirkan satu anak Naga Betina, yang akan menghilangkan nyawa Sang Ibu Naga.

Namun para orangtua Naga akan berkomunikasi dengan anak-anak mereka lewat mimpi dalam tidur mereka yang sangat panjang.

Naga Barat akhir-akhir ini sering dimarahi karena ia pernah tertangkap mata oleh ular sedang memetik bunga di suatu padang yang sepi. Dan karena alasan konyol itulah, orangtuanya memarahi ia bermalam-malam dalam tidurnya.

Sambil berpikir bahwa udara sangat hangat, dan akan sangat mengasyikkan untuk tidur kembali, meski itu berarti ia masih harus menahan lapar, dan bertemu Ayahnya yang senang mengomel ringan, Naga Barat pun memutuskan untuk tidur.

Belum sempat Naga Barat memejamkan mata, Biji Dandelion menegurnya. "Naba! (Panggilan untuk Naga Barat)" Dan Naga Barat menegakkan kupingnya.

"Saatnya tiba." Biji Dandelion berbisik sesaat sebelum kembali ke dalam peluk angin yang membawanya pergi.

Naga Barat pun kembali membuka mata, dan berpikir bosan, "Duh, harus mencari makan sekarang, sebelum waktu tiba dan kaum Naga mulai bergerak." Lalu ia mengibaskan ekornya dan menyelinap ke dalam pasir dan memakan puluhan kerang-kerang, kepiting, ikan pasir, dan akar bakau.

Sementara itu Biji Dandelion terbang ke tempat Naga terakhir, Naga Selatan-Gala.

Gala, Sang Naga Selatan tinggal di dasar danau musim semi di suatu tempat yang sangat jauh, dan sangat indah. Gala juga merupakan satu-satunya Naga yang mampu hidup di air lebih dari 100 tahun tanpa menyentuh udara di atas danau sedikitpun. Dan Gala, adalah satu-satunya Naga yang pernah menyelam hingga ke dasar Samudera Dunia Hewan.

Oleh sebab itu, Biji Dandelion sangat terkejut melihat padang menuju danau musim semi tempat Gala tinggal terlihat sangat kotor dan berantakan, seolah serombongan hewan lari terbirit-birit di atas padang tersebut. Namun keterkejutan tersebut bertambah ketika Biji Dandelion melihat danau musim semi tempat Gala tinggal berwarna merah dan berbau anyir.

Biji Dandelion terhenyak, dan terjatuh dari genggaman angin ke dalam dinginyya air danau musim semi tersebut.

"Gala!" Bisik Biji Dandelion kepada seluruh butiran air yang meregang di permukaan danau.

"Gala." Bisik Biji Dandelion kepada gelembung udara yang biasa meniupkan pesan dari tanah dasar danau.

"Gala..." Bisik Biji Dandelion lagi, kali ini entah kepada siapa ia berbisik.

Dan tak ada jawaban dari Naga Selatan, Air Danau ataupun sekedar pesan dari tanah dasar danau.

Regangan air terpecah, dan Biji Dandelion perlahan tenggelam dalam danau musim semi, menyelimuti dirinya dengan air anyir merah, sisik keemasan milik Naga, dan rahasia tentang kematian satu ekor Naga dari Selatan.


to be contineud....


Selasa, 02 Juni 2009

9

Selasa, Juni 02, 2009 Posted by Tito No comments
....continued


Semua unggas tahu pentingnya istilah "kabar burung." Istilah yang sangat mendebarkan. Terakhir kali sebuah kabar burung berdebar, adalah setahun sebelum Raja Singa mengundurkan diri dan Simba, penerusnya, pergi dari dunia binatang. Sayanganya, kabar burung hanya dapat dimengerti oleh keluarga besar para unggas....... dan Naga tentu saja.

Jadi ketika Bunda Angsa menoleh perlahan ke arah Capung dan Kura-kura, ia tahu, lagi-lagi ini kali ia harus menahan diri untuk tidak memberitahu kabar burung terbaru kepada si Bebek.

Konon, dalam setiap kesempatan kabar burung terdengar, satu unggas harus dikorbankan, dan Naga harus dibangunkan. Tapi tentu saja mungkin itu hanya mitos. Karena pada saat kabar burung sebelumnya terjadi, tidak ada satupun unggas yang tewas. Dan Naga? Sampai sekarang, tidak banyak hewan yang benar-benar pernah melihatnya. Pengakuan hewan-hewan yang pernah melihatnya pun tidak terlalu dapat dipercaya. Ular? Ah, dia juga pernah bilang bahwa dia dapat tidur sepanjang musim panas dan dingin satu tahun penuh. Konyol sekali. Kumbang? Dengan mata kecilnya dan sayap lemahnya apa benar ia pernah benar-benar bertemu Naga yang sedang terbang di langit? Melompati pohon kebijaksanaan saja sudah menguras habis nafasnya.

Lalu Bunda Angsa kembali memperhatikan Bebek. Dalam hati ia mendesah. Bebek ini adalah satu-satunya unggas yang seharusnya sudah mendengar mengenai kabar burung ini, namun tampaknya ia akan menjadi unggas terakhir yang tahu. Semua karena insiden ciuman dengan si babi kecil itu.

Di perjalanan, larva capung dari dalam danau berteriak pada Capung. "Hsssuuuuui!" Capung segera menoleh, "ada apa Dik?" Larva capung segera mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang segera ditanggapi dengan seru oleh si Capung, "Oh ya? Hah? Lagi-lagi! Kamu yakin"

Para binatang di rombongan kecil itu terpaksa menghentikan langkah mereka dan menunggu Capung menyelesaikan pembicaraannya.

Tak lama, Capung kembali kepada mereka, dan setengah meminta maaf. "Aku harus pergi. Ada masalah dengan hujan, dan kami harus mulai membujuk awan lagi. Merepotkan!" Keluhnya.
"Bi..bi..cara dengan Hujan?" Pelikan tiba-tiba tergagap. "Aku juga mau ikut ya!" Pelikan setengah menjerit.

"Pelikan,,ini bukan main-main! Aku harus terbang ke sisi atas timur gunung! Kamu yakin bisa mengikuti aku terbang dengan kecepatan tinggi?" Capung mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi.

"Aku sangat-sangat-sangat pintar terbang dengan kecepatan super! Ayolah, Capung! Aku sangat ingin bicara dengan hujan!" Pelikan memelaskan suaranya. Namun Capung tak terlalu peduli, dan hanya berbisik setengah menantang, "Aku takkan menunggu."

Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera terbang ke langit dan menghilang di balik daun-daun pohon Eek yang agak keemasan karena kilai sinar matahari yang terpantul dari Danau.

Tiba-tiba Bunda Angsa segera menekan si Kura-kura dalam tempurunganya dan mengikatnya dengan tali yang dibawanya dalam keranjang belanjanya. "Bunda!" Pekik Bebek dan Soang terkejut.

"Soang, segera bawa Kura-kura ke Pantai Bakau dan beritahu pada Ayahnya bahwa Kabar Burung telah tiba! Kecuali, ia ingin Para Elang memakan semua bayi Penyu dan menggores tempurung mereka, ini waktu bagi mereka untuk berjalan di bawah pasir! Cepat!" Bunda Angsa terlihat menakutkan dengan suaranya yang begitu tegas. Belum pernah dalam satu masa hidup Bebek, ia melihat Bunda Angsa bersikap sedemikian rupa, bahkan dalam latihan tari paling sulit sekalipun.

"Bunda?" Bebek terlihat bingung.

"Cepat ikuti aku." Angsa putih itu membuka sayapnya yang seolah berkilau keperakan dan megah, dan mulai terbang ke tengah Danau Kilau Cahaya.

Bebek yang dalam keadaan terburu-buru dan bingung, membuka sayapnya, dan setengah terjatuh ke air , sebelum ia dapat menstabilkan berat tubuhnya di atas angin, dan mengisi penuh paru-parunya dengan udara.

Dan mereka berhenti untuk diam menduduki air di tengah Danau.

Lalu Bunda Angsa mulai bicara. "Rapat dunia binatang sudah mulai. Namun kita, bangsa unggas, memiliki rapat kita sendiri, bahasa kita sendiri dan dunia kita sendiri. Tidak ada satupun di antara para binatang besar yang mampu hidup di antara tanah dan angin kecuali kita. Para serangga lebih memilih untuk menghamba pada kehidupan alam, dan melayani binatang lain. Tapi kita memiliki kesombongan tersendiri yang membuat kita berbeda."

Bebek tidak terkejut, mendengarnya, ini adalah salah satu bab yang tertulis di buku pelajarannya saat ia mulai bersekolah dahulu. Tapi ia merasa bulu ekornya berdiri, ia tahu kemana ini akan membawanya. Kabar Burung, dan Si Pembawa Kabar Bayangan. Bebek hanya menelan ludahnya dan menggerak-gerakkan kakinya di bawah air cemas.


to be continued......

Rabu, 27 Mei 2009

Windu

Rabu, Mei 27, 2009 Posted by Tito No comments


..Continued
Si Luak (sejenis kucing -yg kotorannya di bikin kopi luwak -kopi paling mahal) terkejut dengan pengawal istana para prajurit lebah mengatakan Raja Beruang Besar sedang sibuk. karena baru saja dia mendapatkan tugas untuk menjemput si Babi ini agar bisa menceritakan dengan jelas ada apa dengan isu Virus flu yang konon disebarkan oleh si babi.

"ehm.. begini Prajurit istana terhormat, saya mohon untuk memberi konfirmasi kepada sang raja, karena saya mendapat perintah langsung dari beliau. ini masalah keamanan Nasional Negeri Binatang." burung Dodo memohon.

"Masalah keamanan apa?" tanya lebah tidak percaya.
"Kami tidak bisa mengatakan hal ini sekarang karena isu ini masih menjadi kerahasian Kerajaan, ayolah kamu sudah menerima surat resmi dengan cap asli Kerajaan" bujuk luak lagi, dia agak memaklumi dengan urusan birokrasi di Dunia Binatang yang tidak pernah selesai tanpa masalah, pasti ada aja yang menjadi kendala, dia mengutuki pekerjaan para punggawa-punggawa birokrasi kerajaan. dan si Luwak tidak mengatakan tujuannyadengan si babi karena sang ada surat resmi dari negeri Manusia bahwa mereka akan mamusnahkan semua Babi di Negeri Binatang perihal Virus flu yang muncul di Negeri Manusia, yang mereka kira disebabkan oleh Babi. Luwak pikir ini kalau ini tersebar maka akan terjadi kekacauan di Dunia Binatang seperti kejadian dengan Kasus Avian flu 3 tahun belakang. dimana semua unggas di tangkapi dan di bunuh oleh Mahluk yang berjenis Manusia ini tanpa ampun, karena para unggas di tuduh menjadi penyebab virus tersebut. jadi dia lebih memilih untuk merahasiakannya, hanya dia bekantan dan para deputi-deputi kerajaan mengetahui hal ini. maka sang raja beruang memanggil Si Babi untuk menceritakan kebenaran isu ini.

"Ya..ya.. baiklah kalian bisa masuk ke istana. tapi hmm apa yang bisa kalian berikan untuk kami?" ujar lebah sambil tersenyum sinis.
Sial! umpat luwak dalam hati...
"hmm begini saja, kalian suka kopi? aku akan mengirimi 1 bungkus kopi bubuk untuk kalian setelah kami selesai dengan urusan didalam istana, bagaimana?"
"ya..baiklah. tapi ingat janjimu awas kalau ingkar. silakan lanjutkan" kata lebah sambil tersenyum dan memberikan pin dengan tulisan Tamu istana untuk dipakai mereka bertiga.

hahaha.. sebentar lagi perutku mulas dan akan kuberikan mereka biji kopi terbaik didunia -luwak tertawa dalam hati.

si babi dan burung dodo yang mengetahui maksud akal bulus luwak ikut tersenyum geli dan mengikuti si luwak menuju istana setelah memasang pin Tamu Istana tadi.

"Selamat siang yang mulia Raja Beruang Besar" salam si Dodo setelah menemui sang raja yang ternyata memang sedang sibuk.
beliau sedang sibuk berselancar di internet. terpaku di depan layar datar monitor yang tertampang situs pertemanan kebinatangan : BonBin.com yang sedang menjadi trend baru didunia binatang.

"ya..ya.. ada apa?" jawab sang raja tanpa menolehkan pandangannya.
"Kami sudah membawa si Babi ke Istana yang mulia seperti perintah yang mulia" jawab si Luwak dengan rasa hormat.
Si beruang besar ini sebenarnya baru diangkat menjadi raja, sebelumnya Raja Hutan Singa raja dunia binatang wafat dan simba anak laki2 satu-satunya pewaris tahta sudah meningglkan negeri binatang dan menjadi bintang film di dunia Manusia.
akhirnya di putuskan untuk mengadakan Pemilu pertama kali di dunia binatang setelah 32 tahun Singa menjadi raja dan akhirnya Si Beruang Besar menjadi Raja dengan hasil suara terbanyak dari pesaing2nya si Badak cula satu dan Si Tapir yang sekarang menjadi gila karena kalah dalam pemilu, konon dia sudah menghabiskan seluruh kekayaannya untuk kampanye.

"owh.. baiklah kalau begitu.. sebentar, silakan kalian ke ruang pertemuan nanti saya menyusul. tolong antar mereka dan panggil Asisten Deputi KemBuBIIDDBin (Kementerian Binatang Urusan Bencana Isu Internal Dalam Dunia Binatang)" Sang raja menyuruh ajudannya si Panda bulet kecil, tetap dengan tidak menolehkan pandangannya dari layar datar monitornya.

'Lagi rapat masalah isu internal negeri Binatang' - tulis Raja beruang di Status Updates BonBin.com nya sebelum menekan tombol Logout.

To be Continued...

Minggu, 24 Mei 2009

Sapta

Minggu, Mei 24, 2009 Posted by Tito No comments
...Continued

Ia memulai dari pertemuan pertamanya dengan si babi di danau Kilau Cahaya. Lalu pertemuan keduanya di tempat yang sama di tengah malam saat babi memergoki bebek tersebut sedang tersedu karena bertengkar dengan Capung mengenai gerakan tarian musim dingin yang harus sudah dihafal esok harinya. Bebek juga bercerita tentang pertemuan ketiga di danau yang sama saat musim dingin membuat lengket kaki bebek, dan babi itu menolongnya menarik kakinya. Dan sambil bersemu memerah pipinya, bebek terus bercerita tentang pertemuan mereka di kesempatan-kesempatan berikutnya.
Namun sebelum ia melanjutkan ceritanya hingga ke ciuman yang menghebohkan itu, Pelikan sudah terlanjur memekik kesal, "Dan kamu tidak cerita kepada kami selama ini?"
Capung juga mendesah sebal,"Uh, Bebek, kamu bilang kamu sudah tidak mempermasalahkan tarian musim dingin itu lagi!"
Dan kura-kura tergagap," Su..su..sud..ah..dah..lah..! k..k...ki..ta..k..kan..."
"Diam kau,Kura-kura!" Sergah Pelikan dan Capung bersamaan.

"Aku..aku.." Bebek agak ragu menjelaskannya.

"Selama ini kamu selalu menghabiskan waktu sendirian, dan kami tidak pernah protes. Tapi selama ini alasanmu adalah untuk belajar menari, dan menyisik ikan untuk makan malam anak-anak bebek yang kelaparan! Ternyata selama ini kamu habiskan untuk bermain dengan Babi yang baru sekali ini kami dengar ceritanya? Padahal..."
"PELIKAN!!" Capung dan Kura-kura (yang memang tidak pernah gagap untuk menghentikan Pelikan.) berteriak bersamaan.
"Aku juga sangat kesal dengan masalah tarian itu, tapi kita tidak akan tahu alasan sebenarnya kalau kamu tidak memberi bebek kesempatan bicara!" Capung berusaha mengambil alih pembicaraan, berharap ada alasan rasional yang dapat membuatnya memaafkan perasaan dikhianati karena rupanya Bebek masih terluka akibat pertengkaran sepele yang lalu. Sesuatu yang membangkitkan perasaan bersalah pada Capung. Hewan bersayap itu berpikir, ia dulu tidak menyakiti perasaan sahabatnya, Bebek, sampai mendalam seperti itu, dan ia menjadi kecewa pada dirinya sendiri, karena bersikap kurang peka.

Bebek mengambil nafas pelan, "Aku tidak tahu apakah aku boleh mengatakan hal ini."

"Tapi saya tahu." Jawab suara bijak di belakang mereka.

Bebek, Capung, Pelikan, dan Kura-kura serentak menengok ke belakang dan menemukan Bunda Angsa, dan Soang ("Binatang pendek berbulu mirip bebek yang bulunya kotor, dan entah kenapa dia terlihat begitu menyebalkan," pikir Pelikan.)

"Bunda Angsa!" Semua teman-teman Bebek berteriak girang. Bebek hanya memandang kagum sosok anggun Bunda Angsa.

"Maaf ya, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Saya baru saja mau menuju kandang angsa setelah mengumpulkan beberapa Katak Strawberry untuk ditukarkan pada Kalajengkin esok pagi. Kalian mau berjalan bersama ke kandang angsa."

Dan mereka pun berjalan bersama-sama menuju kandang angsa.



To be contined....

Rabu, 20 Mei 2009

Sixtent

Rabu, Mei 20, 2009 Posted by Tito No comments
...continued



Kembali kepada si Bebek yang sedang termenung di dkandangnya.

"bek...bebek.. hey" Tok.tok..tok Teman-teman Bebek ternyata datang menghampiri Bebek yang masih dalam kandangnya tersendu diatas jerami. "Ini aku Capung" aku disini bersama yang lain... Saut Capung memanggil kedalam kandang.
di belakangnya sudah berdiri Kura-Kura Brazil dan Pelikan paruh panjang. "i..y...a, i...n.i.. k..i..t..a, a..y..o..k.e..l..u..a..r" panggil Kura-Kura Brazil dengan tergagap. Kura-Kura Brazil sahabat Bebek ini memang selalu tergagap bila bicara, tapi bisa sembuh bila dia bicara sehabis selancar di laut Ombak Besar di ujung pulau dunia binatang. dia memang peselancar yang hebat, tiap dia menepi sehabis berselancar dia akan lancar bercerita betapa ombak begitu tinggi menggulung-gulung, dan dia melakukan Ollie 360 derajat (gerakan memutar Papan skateboard -red) di atas gelombang itu dengan orang lain. tidak tergagap sama sekali. "Lihat kan aku tadi? Ollie 360 derajat ku hebat! kalian lihat kan? aku sebentar lagi akan mengalahkan Pesut itu! dan Kura-Kura Brazil lah yang akan menggantikannya sebagai Raja Ombak pada saatnya!" Ucapnya dengan lantang dan lancar sambil berseri-seri.. tapi untuk mengalahkan Pesut sang Raja Ombak dia harus melakukan Imposible Ollie 720 derajat. dan itu sangat mustahil sepertinya bagi kura-kura seperti dia yang tidak memiliki kegesitan seperti Pesut itu. tapi itu satu-satunya hal yang dia banggakan dan mimpikan.. Setiap Mahluk hidup tidak punya kehidupan bila tidak bermimpi.

Akhirnya Bebek Keluar dengan mata sembab dan bulu-bulu lusuh di badannya.
"Halo teman-teman... ada apa?" tanyanya tidak semangat.
"Kamu ini kemana saja? kami khawatir sekali dengan kamu setelah kami mendengar kabar-kabar tidak mengenakkan yang kita dengar dari para Penggosip-penggosip Burung Beo tentang kamu yang katanya dicium si BAbi kecil Jelek itu kami juga tidak mendengar kabar kamu dan menemukanmu di danau siang ini kemarin kemarinnya lagi kemarinya lagi dan kemarinya lagi sebetulnya kamu ini kemana dan kenapa kamu kok bersembunyi kami ini mau...mhmmm" "Pelikan! STOP!" tiba tiba capung berteriak dan menutup mulut si Pelikan. "Kamu ini jadi binatang Cerewet banget sih!" Protes Capung. Pelikan memang sangat cerewet. dia bisa menceritakan kejadian dalam satu hari dalam satu hembusan nafasnya. tanpa berhenti.... kadang dia juga berbicara kesana kemari tanpa juntrungan. kadang-kadang teman-temannnya kesal dengan tingkah lakunya ini tapi terasa sepi bila dia tidak ada disekitar. Dia unik, dan dia pendengar yang baik juga...jadi tidak sedikit yang selalu saja curhat tentang masalahnya dengan si Pelikan dan si Pelikan akan memberi nasihat panjang lebar tanpa putus tanpa sedikit pun menggurui, itulah kenapa dia selalu saja menjadi teman yang selalu di cari. Kelemahan yang bisa memberikan kelebihan.

"Iya, kamu kenapa? kita belum mendengar cerita dari kamu. kamu juga tidak cerita kalau kamu sedang dekat dengan si Babi itu, kami ingin kamu mencertikannya semua dari awal" lanjut si Capung.
"i....y.a, k..a..m.i. m..a..u..y..a.n.g..k..o..m.p..l..it..c..e..ri..ta..n..ya.." tambah si Kura-Kura Brazil.
"Baik-baik, aku akan bercerita.. mungkin sebaiknya kita sambil berjalan menuju ke kandang Bunda Angsa. aku butuh nasihat dari dia.." Sambut Si Bebek.

Capung, Kura-Kura, Dan Pelikan sepakat unutuk berjalan menuju Kandang Bunda Angsa,Capung terbang rendah tentunya. Bunda Angsa adalah guru Menari Si Bebek dan Sudah dianggap Seperti Ibu kandung sendiri oleh si Bebek yang Sudah tidak memiliki Ibu lagi. begitu juga sebaliknya ,Sang Bunda Angsa juga menganggap Si Bebek Anaknya sendiri.
"Jadi kita akan ke kandang Bunda Angsa, yang terletak di sebelah utara Danau Kilau tapi aku dengar dia sudah memiliki murid baru yang bernama Soang aku geli mendengarnya soang mana bisa soang bisa menari aku pikir....."
"PELIKAN!!" Teriak Teman-teman yang lain protes.

si Bebek mulai bercerita....


to be continued....

Minggu, 17 Mei 2009

Sol

Minggu, Mei 17, 2009 Posted by Tito No comments
...continued

Sepanjang perjalanan Bekantan dan Dodo terus menerus cekikikan menceritakan kabar burung. Dodo, dengan sangat bersemangat bercerita, "Kalau sampai tidak terbukti, berani bersumpah deh, biar saja anak-cucu Dodo punah!!" Ditimpali dengan gelak Bekantan yang dengan bersemangat berteriak, " Yah, kalau sampai terbukti sebaliknya, saya berani bersumpah biar saya minum semua kotoran si Luak ini." Dan mereka tertawa bagai dua binatang sinting sepanjang jalan.

Luak dengan wajah sok tenangnya mencoba mengingatkan, " Hei, kalian lupa betapa tajamnya telinga Raja Beruang?" Dan bersamaan dengan kata-kata itu, senyaplah seketika pembicaraan antar Bekantan, dan Dodo. Mereka saling melirik, dan diam menahan tawa masing-masing. Tapi ketenangan itu terusik oleh beberapa lusin lebah yang muncul dari entah mana mengelilingi mereka, menghadang jalan mereka.

"Siapa kalian?" Ketus salah satu lebah dengan tangan belepotan madu putih yang keruh.

"Kami dipanggil oleh Sang Raja Besar kesini." Jawab Dodo setengah berteriak. Lalu ia mengeluarkan sehelai surat dari anyaman rami yang sangat halus, dan menyerahkan rami itu pada gerombolan lebah.

Lebah-lebah itu berkumpul dan membaca anyaman dan ikatan rami. Berusaha memecah sandi yang tersembunyi dalam surat tanpa tulisan itu. Bekantan, yang terlihat cemas, segera menunduk malu hingga merah ujung hidungnya. Dodo yang melihat kegelisahan si Bekantan hanya berbisik, "Ya, perjalanan kamu boleh berhenti disini. Ingat, jangan sebarluaskan berita burung tadi. Semua berita burung hanya dapat dimengerti jika dijelaskan oleh kaum kami, jangan coba-coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri."

Bekantan tergagap," Bagaimana kamu akan tahu jika kabar burung itu tersebar oleh aku atau oleh babi jelek itu?"

Dodo mendengus malas, "Babi jelek ini takkan mengerti. Mencium bebek? Puh.. Makhluk apapun yang berani-beraninya mencium bebek dari kandang sebelah danau petaka itu pasti sudah tak punya otak. Bebek? Ya ampun,, dari semua makhluk yang tercipta di muka bumi ini?"

Babi kecil jelek mendelik marah dengan muka padam. Ia sangat kesal. Ia sangat marah, dan ia hampir saja melompat untuk menggigit pantat besar Dodo yang sok tahu itu, ketika tiba-tiba Bekantan berteriak melenguh dan gerombolan lebah menyingkir memberi jalan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Bekantan melompat ke atas pohon, dan berayun menghilang dari antara mereka.

Seekor lebah di sebelah telinga babi berbisik kesal pada lebah lain di sebelahnya, "Kabar burung itu lagi?" Babi kecil segera menatap mereka dengan penuh tanda tanya. "Lagi?" Si lebah, yang menyadari babi itu mendengar ucapannya berbisik lebih pelan lagi, namun kali ini ia membisikkan kata-katanya untuk babi, "Hei, kamu sangat pintar memilih seekor bebek paling cantik untuk dicium. Pada saatnya, kamu tidak akan menyesal barang setetespun."

Dan muka babi kecil kembali merah padam, karena malu dan terbayang paruh manis itu kembali. Ia mencoba mengalihkan pandangannya pada lebah dengan tangan berlumur madu yang sedang membaca surat dari rami.

"Raja sibuk! Kembali besok atau ingin menyelesaikan urusan ini dengan bertemu Asisten Deputi KemBuBIIDDBin (Kementerian Binatang Urusan Bencana Isu Internal Dalam Dunia Binatang) ?" Ketus lebah yang selesai membaca gulungan rami seraya menyerahkan surat itu ke paruh bengkok besar Dodo.




to be continued......

Senin, 11 Mei 2009

Quarto

Senin, Mei 11, 2009 Posted by Tito No comments
...continued


Dalam lelapnya si Babi bermimpi...
mimpi tentang hari itu, hari dimana dia sedang terpaku pada seekor Bebek, Bebek putih leher jenjang yang sedang menari-nari di Danau Kilau Cahaya sebuah danau yang bergemilangan butir-butir cahaya karena sinar matahari atau bulan, sebuah danau tidak terlalu luas yang sangat indah. Si Babi di bawah pohon kenari memandangnya dari pinggir Danau Kilau Cahaya melihat bagaimana tarian Bebek memercikan butiran kristal dari air danau yang terpantul sinar matahari... 'Sangat indah' gumamnya dalam hati. dan detik berjalan sangat lambat. Tarian Bebek Putih menjadi slow motion dalam pikirannya, dia mendetailkan setiap gerakan tarian Bebek Putih hingga 1 fps(frame per second -red). tapi tidak dengan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.
"Pluk!" sebuah kenari jatuh di hidungnya membuat dia tersadar dari lamunannya dan tersadar
kalau dia sedang Jatuh hati.

Merasa diperhatikan si Bebek pun menoleh ke arah Babi. dan menghampirinya, si Babi tersadar dan akhirnya tergagap karena kaget dan binggung. "Hei, Kamu ngapain liatin saya?" "aa..a.aaa aku..." Gagap si Babi sambil mencoba mengatur nafasnya 'huff......huff..' "Kenapa?! kamu ini penguntit ya?!" suara Bebek yang meninggi dan mendekatkan paruhnya ke Babi membuat si Babi makin gelagapan. "tiidd...bu..kkaaann..ehhmm... akkuu... bkkaaan..." "lalu, kenapa dari tadi kamu diam terus liatin saya dari sini?" "Aa...kkuuu... ssuukkaa.. kkammuu.. eh maksdnya sssuukkaaa ttariaan kammm...uuu." ucap si Babi sambil berlari menjauhi si Bebek, dia bisa jatuh pingsan kalau tidak segera pergi pikirnya. dia berlari sangat cepat dengan kaki-kakinya yang mungil tanpa menoleh lagi. hingga tertabrak sesuatu hingga dia agak pusing.. dan berkunang-kunang kepalanya... ternyata si Luak. ah menggangu mimpi indah ku saja, umpat si babi dalam hati.

Dia memanggil namanya.. sambil menepuk pipinya "Bi..Babi.. Bangun.. hey... ayo bangun..." ternyata itu bukan mimpinya lagi. dia terbangun oleh sang Luak yang menepuk-nepuk pipinya.. setelah sadar ada Burung Dodo dan Bekantan di belakang si Luak. "Hey... bangun kamu di panggil Raja Beruang.." kata Luak. "Ada urusan apa?" si babi heran "Dia mau mendengarkan cerita tentag flu yang heboh itu" akhirnya Si Babi pun ikut mereka ke Pusat Kerajaan yang tidak jauh dari hutan...



to be continued....


Kamis, 07 Mei 2009

(#3)

Kamis, Mei 07, 2009 Posted by Tito No comments
continued....
Pohon kebijakan, yang diam-diam mendengar sedu si bebek, terkikik geli. Babi kecil, yang sesengukan di bawahnya heran. "Mengapa kau tertawa?" Dan pohon tersebut hanya tersenyum mendengarnya. Dengan lembut, ia jatuhkan beberapa helai daun untuk menunjukkan bahwa ia peduli pada si Babi kecil.

"Makhluk penghuni bumi yang baik," jawab pohon kebijaksanaan dengan lembut, "Tidak perlu menangisi pelajaran berharga yang akan kau dapatkan sebentar lagi. Sebuah pelajaran yang akan membuat belajar untuk memilih, dan mungkin...." Pohon kebijaksanaan terlihat sedikit kesulitan mendapatkan kata-katanya. " Dan mungkin...akan membuatmu membenci kehidupan, suatu hal yang sangat lumrah bagi mereka yang belum mengerti arti kehidupan sesungguhnya." Pohon itu mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan, "Namun, kau harus selalu ingat bahwa setiap makhluk memiliki jalan kehidupan yang paling sempurna bagi hidupnya masing-masing."

Si babi yang tak mengerti apapun, mulai merasa nyaman dalam ketidaktahuannya. Ia melingkarkan buntutnya yang tipis, dan memeluk kaki belakangnya. Segera, kenyamanan membawa si babi terlelap dalam pelukan akar pohon kebijaksanaan.


to be continued...


Rabu, 06 Mei 2009

Part deux

Rabu, Mei 06, 2009 Posted by Tito No comments
....continued

***

Pada saat itu Bebek manis termenung dalam kandangnya, tidak menghiraukan saudara-saudaranya yang sedang bersenang-senang mengarungi danau kilau cahaya, dia sepertinya tidak selera menjalani aktifitas yang sangat dia senangi hari ini, menyusuri danau kilau cahaya, dan menari-nari dengan angun bersama saudara-saudaranya yang lain.
hari ini dia hanya duduk diam diatas jeraminya. menekuk muka kedalam sayap kanannya.
dia sedih. dia malu. entah. dia tidak tahu apa yang dia rasakan. Apakah ini kesalahan? apakah ini sebuah kobodohan?
bukan. dia merasakan yang aneh. entah apa itu. sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Sejenak dia merasakan ribuan kupu-kupu dalam perutnya. sesaat Babi itu menciumnya. tapi dengan cerita yang disebarkan si Luak (mirip monyet -red) yang tersebar ke pelosok negeri, tentang isu virus flu, tentang si Babi yang menyebabkan itu semua. dia seperti merasa bodoh, malu, kecewa, takut, cemas, khawatir. semuanya bercampur. kini kupu2 di perutnya pun naik ke atas jantungnya. tapi yang pasti, ini semua tentang Babi itu.

Tanpa sadar Air matanya mulai menetes... dia menenggelamkan kepalanya lebih dalam. dia menangis, untuk sebuah perasaan yang dia sendiri tidak tahu apa itu. bulu indahnya pun mulai rontok perlahan.



...to be continued

Senin, 04 Mei 2009

No. 1

Senin, Mei 04, 2009 Posted by Tito No comments
....the story begin here...

Babi kecil jelek itu berlari dan menguik-nguik sedih ke dalam pelukan pohon kebijaksanaan di satu hutan. Ia menangis bukan karena ia diejek oleh sebab dirinya yang jelek dan kecil. Toh, ia sudah terbiasa dicela dan ditertawakan karena rupanya yang sangat luarbiasa buruk itu. Yang membuat si babi kecil ini sedih karena ia dituduh menyebarkan pilek jelek ke dunia para manusia, hanya gara-gara ia telah mencium seekor bebek!!
Si luak, yang mengintip momen istimewa itu terpingkal-pingkal hingga jatuh berguling-guling di atas tanah. Kemudian luak jahat itu mulai bergunjing soal si-babi-yang-paling-jelek-dan-kecil-itu-mencium-bebek!! Tidak berhenti sampai di situ, pengadilan para binatang pun memvonis bahwa ciuman itu buruk untuk para manusia, dan dunia hewan harus lebih berhati-hati jikalau mereka ingin mencium hewan jenis lain.
Tapi hal yang paling buruk dari ini semua adalah ketika si bebek, yang tersadar telah dicium oleh babi paling jelek dan kecil, merasa sangat malu, hingga merontokkan beberapa bulu sayapnya, dan berpaling menjauh dan hilang dari pandangan si babi.
Babi itu terus berusaha mengejarnya, namun kakinya yang kecil, dan wajah jeleknya membuat si babi tak mampu mengejar dan menangkap bebek itu dalam pelukannya. Dan babi itu tak mampu mengetuk kandang bebek, karena ia terus merasa gugup mengingat paruh bebek yang begitu tipis, hangat, dan sedikit basah. Dan ia takut bebek manis yang diciumnya merasa malu karena seekor babi jelek mengetuk kandang mereka untuk meminta maaf pada si bebek. Jadi alih-alih mengejarnya bebek, dan mengetuk kandang, babi kecil ini masuk dalam hutan.
Lalu babi itu mengotori wajah jeleknya di bawah pohon kebijaksanaan dengan air mata yang tak jelas untuk siapa dijatuhkannya. Mengasihani dirinyakah?

(to be continued)

Sabtu, 20 September 2008

Beruang Besar dan Capung Lentik

Sabtu, September 20, 2008 Posted by Tito 2 comments
Ada seekor Beruang Besar yang hidup di sebuah bukit kecil yang penuh dengan ilalang,
dia memiliki rumah sebuah Goa kecil yang nyaman untuk tempat berlindung dari hujan dan panas... beruang yang selalu di juluki beruang madu oleh teman-teman dan sahabatnya yang tinggal di hutan bawah bukit ini memiliki badan yang besar sekali walaupun selera makannya biasa saja... entah mengapa dia di juluki beruang madu, padahal beruang besar itu tidak suka rasa yang terlalu manis seperti madu...mungkin mereka menganggap beruang besar itu manis untuk dilihat atau teman-temannya hanya tahu satu jenis Beruang saja. katanya sih sahabat-sahabatnya sering melihat Beruang Besar makan blepotan seperti layaknya Beruang lagi Makan Madu...
Beruang Besar selalu senang menghabiskan hari-harinya di dalam Goa kecilnya sambil menghabiskan waktu melihat teman-teman dan sahabatnya bermain di hutan bawah bukit. dia memang lebih senang menjadi pengamat, melihat sekitar tanpa komentar...
Pada suatu hari saat dia sedang berjalan-jalan di ilalang sekitar Goa tanpa sengaka dia bertemu dengan seekor Capung... aku Capung Lentik ujarnya. Beruang Besar mengerti kenapa julukannya Capung Lentik, Capung itu memiliki 2 Buah bulu mata yang lentik melindungi 2 Bola Mata yang bulat dan berkaca-kaca...
Pertemuannya dengan Capung Lentik menjadikan mereka menjadi dekat lalu bersahabat...
Capung Lentik selalu mengajak Beruang Besar keluar dari Goa nya, mereka bersama-sama menelusuri tepian hutan dan bukit. menemukan sungai, pohon, padang rumput dan Kebun Bunga Matahari... selalu saja ada tempat baru yang menakjubkan yang ditunjukkan Si Capung Lentik pada Beruang Besar...dan ini membuat Beruang Besar jatuh hati padanya...
Sedangkan Beruang Besar salalu mengajak Capung Lentik beristirahat di Goa kecilnya dan menceritakan cerita cerita dongeng sambil menatap dan mengagumi kolong langit yang gelap, tentang bintang kecil yang ingin selalu bersinar siang dan malam, tentang kerang yang jatuh cinta dengan butiran pasir, tentang asal muasal hujan, tentang kupu-kupu yang ingin ke pucuk menara... dongeng yang akhirnya membuat Capung Lentik betah berlama-lama berada sekitar Beruang Besar....
Suatu hari Beruang Besar menemukan sekuntum Bunga Matahari di depan Goanya... dia tahu itu pemberian Capung Lentik. Beruang Besar-pun merasa berbunga-bunga, dia benar-benar jatuh cinta pada Capung Lentik, sebagai gantinya dia membuat sebuah lukisan, lukisan Capung Lentik diantara Rerimbunan Bunga Matahari. dia melukisnya di dinding Goa kecilnya.
Capung Lentik berkaca-kaca, setelah dia melihat kejutan yang telah disiapkan untuknya sore itu oleh Beruang Besar... akhirnya mereka saling bersentuhan, Capung Lentik mengibaskan sayapnya ke hidung Beruang Besar... mereka jatuh cinta tanpa kata-kata.
Ribuan Musim berlalu, mereka tetap bersama...
sahabat-sahabat mereka terlihat senang melihat mereka berdua, Capung Lentik dan Beruang Besar yang saling memuja dan mencintai. walaupun mereka tidak memiliki kesamaan...
yang satu kecil yang satu sangat besar, yang satu senang berdiam diri yang satu senang berloncat kesana kemari mengikuti arah angin.. tapi mereka memiliki sesuatu yang bisa membuat mereka melewati ribuan musim itu... entah apa sesuatu itu mungkin mereka juga tidak pernah mengerti...
lalu satu musim datang, musim diluar musim-musim mereka sebelumnya, bukan musim awan, bukan musim hujan, bukan musim berbunga, bukan musim apapun... musim terakhir. musim dimana si Capung Lentik tidak akan bisa lagi menebak bentuk awan bersama Beruang Besar di penghujung senja. musim dimana Beruang Besar tidak akan lagi di usik tidurnya dengan kibasan Sayap-sayap siCapung Lentik... Musim terakhir yang akan memisahkan mereka, memisahkan mereka diantara waktu dan jarak....dimana hujan dan senja tidak lagi menjadi kesejukkan dan kehangatan bersama diantara mereka.
Si Capung Centil harus kembali ke tempat dia berasal, Bukit Kerajaan Capung. dimana dia harus mengemban tugas menjadi seorang ratu mengganti ibunya yang sudah tua dan sakit. suatu amanat yang sangat tidak bisa dia bantah... sedangkan Sang Beruang Besar sangat tidak mungkin untuk ikut bersamanya, karena untuk Bukit Kerajaan Capung kita harus terbang sekitar 30 kaki untuk mencapainya. sedangkan Beruang Besar sangat tidak mungkin untuk terbang.
mereka pun berpisah... hanya raga. hati mereka tetap bersama....
kini mereka terentang jarak dan waktu...
mereka masih bisa berkomunikasi...angin mengantarkan gema-gema percakapan-percakapan mereka, percakapan cinta mereka, percakapan pertengkaran mereka, percakapan basa-basi mereka, tangis mereka, tawa mereka...
gema yang akan kita dengar jilakau kita terbangung di sepertiga malam dan secara halus kita akan mendengar Beruang Besar dan Capung Lentik, berbisik-bisik malu mengucapkan
"I LOVE U..."

tj,karang 22//09//08 11:21 am